Sabtu, 27 Juli 2013

ANALISIS VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI STRUKTUR KEUANGAN (Studi Kasus pada Koperasi Pegawai Republik Indonesia Kodya Malang)

ANALISIS VARIABEL-VARIABEL YANG
 MEMPENGARUHI STRUKTUR KEUANGAN
(Studi Kasus pada Koperasi Pegawai Republik Indonesia Kodya Malang)


M. Yusuf A. Ngampo*

Abstrak: Mengabaikan perekonomian kerakyatan dan pemberian porsi konglomerasi (swasta) dan BUMN lebih besar daripada koperasi merupakan salah satu penyebab terjadinya krisis di Indonesia. Oleh karena itu pengkajian solusi terhadap permasalahan pengembangan koperasi perlu selalu dilakukan mengingat di dalam badan usaha koperasi merefleksikan suatu lembaga ekonomi rakyat dimana anggota adalah pelanggan sekaligus pemilik yang bekerja berdasarkan prinsip-prinsip dasar dan berasaskan kekeluargaan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya. Upaya untuk mengetahui penerapan struktur keuangan pada KPRI, dan variabel-variabel yang mempengaruhi struktur keuangan KPRI dengan harapan informasi yang diperoleh dapat menjadi bahan pertimbangan manajemen dalam menentukan struktur keuangan untuk meningkatkan nilai koperasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Struktur keuangan KPRI Kodya Malang mempunyai rasio yang rendah artinya secara umum KPRI menggunakan modal sendiri lebih besar daripada hutang. 2) Variabel struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return on assets (ROA), overating leverage, ukuran perusahaan dan sisa hasil usaha yang dibayarkan secara simultan berpengaruh signifikan positif terhadap struktur keuangan, sehingga variabel-variabel tersebut secara bersama-sama perlu dipertimbangkan di dalam menetapkan struktur keuangan KPRI. 3) Dari enam variabel bebas yang diajukan, secara parsial tiga variabel yaitu struktur aktiva, return on assets (ROA), dan ukuran perusahaan secara signifikan mempengaruhi struktur keuangan KPRI, dan variabel ukuran perusahaan merupakan variabel dominan.

Kata-kata kunci: struktur keuangan




* M.Yusuf A. Ngampo adalah Dosen FIS Universitas Negeri Makassar
 
Haluan negara tentang pokok-pokok reformasi pembangunan memberikan gambaran kondisi yang menyebabkan terjadinya krisis di Indonesia antara lain: penyelenggaraan perekonomian nasional kurang mengacu pada amanat pasal 33 UUD 1945, di mana mengabaikan perekonomian kerakyatan, porsi konglomerasi (swasta) dan BUMN lebih besar daripada koperasi, dan pengusaha yang dekat dengan elit kekuasaan mendapatkan prioritas khusus, sehingga berdampak timbulnya kesenjangan sosial. Suman (1995) menyatakan porsi konglomerasi/swasta terhadap penguasaan perekonomian 70% (120 orang), BUMN 20% (166 orang), dan Koperasi hanya 10%. Jumlah usaha kecil dan koperasi (UKK) menurut Ismawan (1999) sekitar 34 Juta unit usaha dengan kontribusi 38,9% terhadap produk domestik bruto pada tahun 1997.
Masalah yang dihadapi koperasi dalam bidang pemasaran, produksi, sumber daya manusia, pembelajaran dan akuntansi, merupakan serentetan persoalan internal dan eksternal yang perlu dicarikan solusi agar dapat bekerja efisien dan profesional sehingga lebih mendapat simpati dari anggota dan masyarakat. Khusus masalah permodalan, kendala usaha kecil, menengah dan koperasi 16,1% (Thoyib, 1999).
            Isu penting yang dihadapi oleh para manajer keuangan adalah hubungan antara struktur modal dan nilai perusahaan (Sartono, 1996). Induk struktur modal perlu diketahui yaitu struktur keuangan yang mencerminkan perimbangan secara keseluruhan hutang perusahaan dengan modal sendiri. Memperhatikan struktur keuangan memberikan suatu analisis penentuan komposisi elemen sumber keuangan yang dapat meningkatkan nilai perusahaan. Jika perubahan komposisi elemen sumber keuangan tidak menyebabkan perubahan terhadap nilai perusahaan berarti tidak ada struktur keuangan yang terbaik (semuanya baik), tetapi kalau merubah komponen struktur keuangan ternyata nilai perusahaan bertambah, maka akan diperoleh struktur keuangan yang terbaik. Keadaan ini dapat terjadi oleh karena beberapa ahli dan peneliti mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi struktur keuangan atau struktur modal seperti Ferry dan Jones (1979), Weston dan Copeland (1997), Sartono (1996), Weston dan Brigham (1997), Machmoud Moh’d (1998), dan lain-lain.
            Penelitian yang dilakukan pada KPRI Kodya Malang berusaha melihat dan menganalisis beberapa variabel yang dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas yaitu variabel struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return on asset (ROA), operating leverage, ukuran perusahaan, dan sisa hasil usaha (SHU) yang dibayarka terhadap struktur keuangan. Variabel ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan bahwa variabel-variabel tersebut merupakan komponen penting dalam laporan keuangan koperasi dan menjadi faktor utama dalam menentukan struktur keuangan KPRI. Variabel sisa hasil usaha yang dibayarkan memperoleh perhatian khusus mengingat variabel ini secara kongkrit menyajikan bahagian laba atau keuntungan yang diperoleh para anggota koperasi sebagai pelanggan dan pemilik, sehingga analisis ini dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan para anggota untuk menilai kemanfaatan menjadi anggota koperasi. Selain itu memberikan informasi yang dapat dijadikan solusi dalam pengembangan koperasi khususnya variabel SHU yang dibayarkan.
            Bertitik tolak dari uraian di atas, dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana penerapan struktur keuangan di lingkungan Koperasi Pegawai Republik IndonesiaKodya Malang, Apakah variabel struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, profitabilitas (return on assets), operating leverage, ukuran perusahaan, dan pembayaran sisa hasil usaha (SHU) mempunyai pengaruh terhadap struktur keuangan Koperasi Pegawai Republik Indonesia Kodya Malang? Dari variabel-variabel tersebut, variabel manakah yang berpengaruh dominan pada struktur keuangan Koperasi Pegawai Republik Indonesia Kodya Malang?
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan struktur keuangan dilingkungan KPRI Kodya Malang, mengidentifikasi pengaruh variabel struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return on asset (ROA), operating leverage, ukuran perusahaan, dan pembayaran SHU terhadap struktur keuangan KPRI Kodya Malang, dan mengetahui variabel dominan dari variabel-variabel struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return on asset (ROA), operating leverage, ukuran perusahaan, dan pembayaran SHU terhadap struktur keuangan KPRI Kodya Malang.

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

            Manajemen keuangan menyangkut kegiatan perencanaan, analisis, dan pengendalian kegiatan keuangan. Banyak keputusan yang harus diambil oleh pengelola keuangan (manajer keuangan koperasi), dan berbagai kegiatan yang harus dijalankan. Akan tetapi bila dikelompokkan, kegiatan tersebut menyangkut kegiatan menggunakan dana dan mencari pendanaan. Weston dan Copeland (1997) menyatakan bahwa struktur keuangan adalah cara bagaimana perusahaan membelanjai aktivanya, dan dapat dilihat pada seluruh sisi kana neraca. Clarke et.al. (1990) menyatakan bahwa manager keuangan umumnya akan memilih pendanaan internal disbanding sumber-sumber eksternal. Sumber-sumber eksternal akan digunakan jika dana internal telah terpakai.
            Dalam badan usaha koperasi simpanan asal anggota (simpanan pokok, simpanan wajib, dan sejenisnya), pemupukan modal donasi, cadangan, dan SHU yang akan dibagi merupakan modal sendiri. Sedangkan modal pinjaman dapat berasal dari anggota, koperasi lainnya dan atau anggotanya, bank dan lembaga keuangan lainnya, penerbitan obligasi dan surat utang lainnya serta penyertaan. Khusus mengenai modal penyertaan ketentuannya diatur dalam peraturan pemerintah (UU No. 25/1992 Pasal 42), dengan prinsip bahwa pengendalian dan pengelolaan koperasi tetap ditangan para anggota, modal digunakan secara efisien dan untuk usaha-usaha yang bermanfaat bagi anggota. Perbandingan keseluruhan pinjaman (jangka pendek dan jangka panjang) dengan modal sendiri membentuk struktur keuangan koperasi. Riyanto (1996) memberikan batas imbangan yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan mengenai besarnya dana dari luar (hutang) dengan modal sendiri yang dikenal dengan aturan struktur keuangan konservatif vertikal. Aturan ini menetapkan bahwa dalam keadaan bagaimanapun modal asing tidak boleh melebihi besarnya modal sendiri. Selanjutnya struktur keuangan konservatif horizontal menetapkan aturan bahwa besarnya aktiva tetap dan persedaiaan besi harus sepenuhnya dibelanjai dengan modal sendiri, atau dapat dikatakan bahwa besarnya modal sendiri tidak boleh lebih kecil/kurang dari aktiva tetap plus persediaan besi, karena hal ini akan mengganggu likuiditas badan usaha.

Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Struktur Keuangan

1.    Struktur Aktiva

Struktur aktiva merupakan perbandingan antara aktiva lancer dengan aktiva tetap. Struktur aktiva yang tinggi berarti perusahaan (koperasi) lebih banyak membelanjakan dananya pada sector aktiva lancer, sehingga memberikan indikasi adanya ketidakmampuan koperasi dalam menjamin hutang jangka panjang yang dipinjamnya. Sebaliknya struktur aktiva yang rendah berarti perusahaan lebih banyak membelanjakan dananya pada sector aktiva tetap, sehingga ,memberikan indikasi adanya kemampuan koperasi untuk menjamin hutang jangka panjangnya. Firdiansjah, Farida (1998) menemukan struktur aktiva mempunyai pengaruh nyata baik secara simultan mauapun persial terhadap struktur keuangan/struktur modal.

2.    Pertumbuhan penjualan

Perusahaan dengan tingkat penjualan stabil akan mudah memperoleh pinjaman dibandingkan perusahaan yang tingkat penjualannya stabil (Weston dan Brigham, 1997). Demikian juga perusahaan yang tingkat pertumbuhan penjualannya tinggi mencerminkan tingkat pertumbuhan perusahaan tinggi. Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi akan membutuhkan dana untuk membiayai pertumbuhan tersebut. Jika sebagian keuntungan yang diperoleh digunakan untuk membiayai pertumbuhan tersebut, maka dana untuk membayar pembahagian laba pemilik akan rendah, sehingga perusahaan cenderung untuk mencari dana dari luar atau hutang. Pertumbuhan penjualan mepunyai pengaruh yang tidak nyata terhadap struktur keuangan (Fiediansjah, 1998).


3.    Return On Assets (ROA)

Perusahaan dengan tingkat ROA yang tinggi, umumnya menggunkan hutang dalam jumlah yang relatif kecil, hal ini disebabkan oleh karena perusahaan tersebut memungkinkan melakukan permodalan dengan laba yang ditahan (Weston dan Brigham, 1997). Variabel return on assets mempunyai pengaruh signifikan negatif terhadap struktur modal (Farida, 1998). Fardiasyah (1998), Meivinita (1999) menemukan ROA berpengaruh signifikan negative terhadap struktur keuangan.

4.    Operating Leverage

Penggunaan operating leverage mengharapkan perubahan penjualan akan mengakibatkan perubahan EBIT yang lebih besar. Weston dan Brigham (1997) menyatakan bahwa perusahaan dengan leverage operasi yang kecil lebih mampu memperbesar leverage keuangan, karena interaksi leverage operasi dan keuanganlah yang mempengaruhi penurunan penjualan terhadap laba operasi dan arus kas bersih secara keseluruhan. Dengan demikian perusahaan dengan DOL (degree of operating leverage) yang tinggi cenderung menggunakan hutang yang lebih kecil dari pada perusahaan dengan DOL yang rendah. Hal ini disebabkan karena DOL yang tinggi menunjukkan kemungkinan adanya resiko bisnis yang tinggi. Hasil penelitian Farida, operating laverage berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, dan tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur keuangan (Firdiansjah).

5.    Ukuran perusahaan

Ferry dan Jones (1979) memberikan skala perusahaan berdasarkan; total penjualan, total aktiva, rata-rata tingkat penjualan, dan rata-rata total aktiva, dan dinyatakan bahwa ukuran perusahaan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap struktur keuangan. Beberapa peneliti menggunakan penjualan atau asset untuk mengukur besarnya perusahaan. Pertumbuhan penjualan atau asset yang bernilai positif berarti mencerminkan semakin besar ukuran perusahaan, dan investor percaya bahwa ukuran perusahaan mempunyai hubungan dengan risiko, karena semakin besar perusahaan maka terdapat kecenderungan perusahaan akan menggunakan modal (hutang) yang semakin besar.

6.    Sisa Hasil Usaha (SHU) yang Dibayarkan

Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba, maka akan mengurangi laba yang ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber dana intern (internal financing). Sebaliknya jika perusahaan memilih menahan laba yang diperoleh, maka kemampuan pembentukan dan intern akan semakin besar. Kebijakan ini dibenarkan oleh Husnan (1996) jika menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi dari biaya modal sendiri. Olehnya itu kebijakan pembagian laba akan menentukan struktur keuangan perusahaan. Variabel dividend payout ratio berpengaruh signifikan negative terhadap SK (Firdiansjah,1998). Dalam koperasi, rapat anggota menentukan kebijakan pembagian SHU. Komponen-komponen yang termasuk dalam bagian SHU yang belum dicairkan disajikan dalam kelompok kewajiban lancer (PSAK No. 27). Bagian SHU yang disisihkan untuk dijadikan penyertaan dalam modal koperasi perlu kejelasan yang rinci (Nurdin, 1997).

Hipotesis

            Berdasarkan kajian teori, penelitian terdahulu, dan permasalahan yang dikemukakan, maka dinyatakan hipotesis penelitian ini bahwa variabel struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return on assets (ROA), operating leverage, ukuran perusahaan, dan SHU yang dibayarkan, secara simultan berpengaruh signifikan positif terhadap struktur keuangan Koperasi Pegawai Republik Indonesia Kodya Malang. Diduga bahwa variabel struktur aktiva, on assets (ROA) dan ukuran perusahaan secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap struktur keuangan KPRI Kodya Malang, kemudian diduga bahwa variabel struktur aktiva mempunyai pengaruh dominan terhadap strktur keuangan KPRI Kodya Malang.

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel Penelitian

            Populasi penelitian ini adalah seluruh Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) yang menjadi anggota pada Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) Kodya Malang, yaitu sebanyak 66 KPRI.
            Sampel berdasarkan metode purposive sampling dengan criteria bahwa KPRI mempunyai unit usaha simpan pinjam dan waserda (toko), jumlah anggota minimal 30 orang, memperoleh badan hokum lebih dari tujuh tahun, dan melaksanakan RAT secara berturut-turut empat tahun terakhir.
            Kriteria ini didasarkan pada pertimbangan bahwa usaha simpan pinjam dan usaha pertokoan dapat memenuhi kebutuhan data variabel penelitian (jumlah kredit yang disalurkan/pendapatan dan hasil penjualan barang/jasa). Jumlah anggota minimal 30 orang dapat memenuhi syarat pendirian suatu koperasi primer. Berbadan hukum lebih dari tujuh tahun dan sekurang-kurang melakukan RAT berturut-turut empat tahun terakhir mengindikasikan bahwa KPRI telah beroperasi, dan baik secara administrasi keuangan sehingga data yang diperoleh lebih terjamin. Dari kriteria ini ditetapkan 33 KPRI sebagai sampel.   

Metode Pengumpulan Data

            Dalam penelitian ini digunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengurus KPRI-KPRI dan pengurus PKPRI berupa pendapat dan penjelasan-penjelasan berkaitan dengan permasalahan penelitian. Data sekunder berupa laporan keuangan selama empat tahun mulai dari tahun 1995 sampai tahun 1998 berupa Neraca, Laporan Hasil Usaha, serta laporan-laporan yang terkait, dan telah disahkan oleh Rapat Anggota Tahunan (RAT).

Spesifikasi Variabel

            Variabel terikat (Dependent Variabel) adalah struktur keuangan. Dihitung dengan membandingkan total hutang dengan modal sendiri KPRI yang diteliti dengan satuan persentase (%), dan diberi lambang Y.
            Variabel bebas (Independent Variabel); yaitu variabel-variabel yang diduga secara bebas berpengaruh terhadap variabel terikat (Y). variabel-variabel bebas tersebut adalah struktur aktiva (SAKT), pertumbuhan penjualan (PPJ), return on assets (ROA), operating laverage (OLE), ukuran perusahaan (UPER), dan SHU yang dibayarkan (SHUDB). Variabel bebas diberi lambang X1 ……. X6.

Model Analisis Data

            Model analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah model analisis regresi linear berganda. Model ini dipergunakan oleh karena untuk mengetahui pengaruh secara langsung variabel-variabel yang mempengaruhi struktur keuangan. Model ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Y= β0+β1X1+β 2X2+β 3X3+β 4X4+β 5X5+β 6X6+e

Dari model formulasi dijelaskan bahwa:
Y                     = Struktur Keuangan (SKEU)
β0                    = Konstanta
X1                   = Struktur aktiva (SAKT)
X2                   = Pertumbuhan Penjualan (PPJ)
X3                   = Return On Assets (ROA)
X4                   = Operating Laverage (OLE)
X5                   = Ukuran Perusahaan (UPER)
X6                   = SHU yang dibayarkan (SHUDB)
e                      = Kesalahan Pengganggu        
β0……β 6         = Koefisien Regresi

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.    Struktur Keuangan

Struktur keuangan diukur dengan membandingkan antara total hutang KPRI dengan modal sendiri KPRI (simpanan pokok dan simpanan wajib, pemupukan modal donasi, cadangan dan sisa hasil usaha yang akan dibagi), dinyatakan dlam presentase. Struktur keuangan mencerminkan besarnya proporsi pandanaan melalui hutang terhadap modal sendiri.

Table 1. Deskripsi Kondisi Struktur Keuangan KPRI 1996-1998




No.
Keterangan
Tahun
1996-1998
1996
1997
1998
1.                    
Terendah
14,64
10,41
4,18
13,39
2.                    
Tertinggi
239,50
223,66
151,86
195,28
3.                    
Rata-rata
69,22
65,92
54,84
63,33
4.                    
≥ rata-rata
10
10
14
10
5.                    
˂ rata-rata
23
23
19
23
6.                    
≥ 100%
6
6
4
6
7.                    
˂ 100%
27
27
29
27
Sumber: Tesis Lampiran 10 diolah

            Dari tabel di atas diketahui rasio struktur keuangan ditinjau dari masing-masing koperasi terendah terjadi pada tahun 1998 (4,18%), dan tertinggi terjadi pada tahun 1996 (239,50%). Struktur keuangan terendah berarti bahwa KPRI tersebut di dalam operasinya menggunakan hutang sebesar 4,18%, sedangkan selebihnya merupakan modal sendiri, atau dapat dikatakan bahwa hutang sebesar Rp 4,18 dijamin modal sendiri sebesar Rp 100. SKEU rendah disebabkan adanya pelunasan hutang PKPRI pada tahun 1998. KPRI dengan struktur keuangan tertinggi, mencerminkan bahwa KPRI ini menggunakan hutang 2,395 kali lebih besar dari modal sendiri, artinya hutang KPRI sebesar Rp 239,5 dijamin modal sendiri hanya sebesar Rp 100. Struktur keuangan rata-rata sampel bergerak menurun, hal ini mengindikasikan adanya penurunan hutang KPRI secara keseluruhan atau peningkatan jumlah modal sendiri KPRI yang tidak diimbangi dengan peningkatan hutang. SKEU KPRI Kodya Malang.
            SKEU KPRI Kodya Malang secara umum rendah, dimana 27 KPRI mempunyai SKEU lebih kecil dari rata-rata sampel. Total rata-rata SKEU KPRI 63,33% artinya setiap hutang Rp 66,33 dijamin modal sendiri sebesar Rp 100,- jadi KPRI Kodya Malang membelanjai aktivanya menggunakan modal sendiri lebih besar daripada hutang. Kebijakan pembelajaran KPRI ditinjau dari segi ROA, lebih menguntungkan dengan SKEU rendah dari pada SKEU tinggi Lampiran 9 (Tesis).

2.    Struktur Aktiva

Struktur aktiva dimaksudkan untuk mengetahui porsi pendanaan aktiva tetap dari total aktiva atau membandingkan antara aktiva tetap dengan total aktiva.
Tabel 2. Deskripsi struktur aktiva KPRI Kodya Malang tahun 1996-1998
No.
Keterangan
Tahun
1996-1998
1996
1997
1998
1.                   
Terendah
0,04
0,03
0,01
0,03
2.                   
Tertinggi
42,52
34,76
45,60
36,58
3.                   
Rata-rata
7,40
7,57
8,89
7,95
4.                   
≥ rata-rata
9
9
12
10
5.                   
˂ rata-rata
24
24
21
23
Sumber: Tesis Lampiran 11 diolah

            Struktur aktiva KPRI Kodya Malang pada umumnya rendah yaitu hanya 7,96% artinya KPRI tidak mempunyai aktiva tetap yang cukup untuk dapat dijadikan jaminan memperoleh hutang jangka panjang. Hal ini disebabkan oleh karena KPRI mempunyai kegiatan usaha jasa simpan pinjam dan perdagangan atau bukan usaha industry/manufaktur. Selain itu KPRI banyak mempergunakan fasilitas milik pemerintah seperti gedung, tanah. KPRI dengan SKEU tinggi mempunyai SAKT yang tinggi dan KPRI SKEU rendah mempunyai SAKT rendah.

3.    Pertumbuhan Penjualan

Pertumbuhan penjualan dihitung dari selisih antara jumlah penjualan pada suatu tahun (t) dengan tahun sebelumnya (t-1) dibagi dengan penjualan tahun sebelumnya (t-1) yang dinyatakan dalam presentase.
Tabel 3. Deskripsi pertumbuhan penjualan KPRI Kodya Malang 1996-1998
No.
Keterangan
Tahun
1996-1998
1996
1997
1998
1.                    
Terendah
-13,31
-54,04
-62
-8,04
2.                    
Tertinggi
126,34
120,99
84,83
74,00
3.                    
Rata-rata
27,26
20,53
15,83
21,21
4.                    
≥ rata-rata
13
16
15
14
5.                    
˂ rata-rata
20
17
18
19
 Sumber: Tesis lampiran 12 diolah

            Ditinjau dari masing-masing periode KPRI, pertumbuhan penjualan terendah terjadi pada tahun 1998 yaitu -62% dan tertinggi pada tahun 1996 yaitu 126,34%. Dari tahun 1996-1998 terendah -8,04% dan tertinggi 74%. Keadaan ini menggambarkan bahwa pertumbuhan penjualan KPRI lebih banyak berada di  bawah rata-rata industri.
            Dari sisi rata-rata industry pertumbuhan penjualan KPRI mengalami penurunan. Dari tahun 1996-1997 empat unit KPRI mengalami pertumbuhan negatif dan dari tahun 1997-1998, 11 unit KPRI. Penyebabnya selain karena volume penjualan memang menurun juga KPRI yang melakukan usaha tanah kapling dan perumahan, sejak akhir tahun 1997 berangsur-angsur berhenti. Hal ini mengindikasikan bahwa KPRI juga terimbas oleh adanya krisis ekonomi. Jika dikaitkan dengan SKEU KPRI, dapat diketahui bahwa sekutu SKEU KPRI yang tinggi tidak menghasilkan pertumbuhan penjualan yang tinggi, akan tetapi SKEU yang rendah menghasilkan pertumbuhan penjualan yang lebih besar dari SKEU yang tinggi walaupun masih di bawah rata-rata industri.

4.    Return On Asset (ROA)

Return on asset menunjukkan kemampuan KPRI untuk menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak dari total aktiva yang dipergunakan.

Tabel 4. Deskripsi Return on asset KPRI Kodya Malang 1996-1998
No.
Keterangan
Tahun
1996-1998
1996
1997
1998
1.                   
Terendah
7,0
5,61
6,2
7,28
2.                   
Tertinggi
26,33
34,08
32
29,60
3.                   
Rata-rata
13,50
12,25
12,22
12,66
4.                   
≥ rata-rata
14
13
12
14
5.                   
˂ rata-rata
19
20
21
19
Sumber: Tesis Lampiran 13 diolah

            Ditinjau dari masing-masing KPRI ROA terendah dan tertinggi terjadi pada tahun 1997 yaitu 5,61% dan 34,08%. Dari tabel diperoleh gambaran bahwa KPRI beroperasi dengan ROA di bawah rata-rata sampel masih lebih banyak daripada KPRI dengan ROA di atas rata-rata sampel. Rata-rata ROA tahun 1996 adalah 13,50%, tahun 1997 (12,25%) dan tahun 1998 (12,22%). Total rata-rata tingkat pengembalian aktiva (ROA) sebesar 12,66% artinya penghasilan yang diperoleh sebelum bunga dan pajak adlah 12,66% dari total aktivanya.

5. Operating Leverage

Operating leverage yang dihitung bedasarkan degree of operating leverage (DOL) dilakukan dengan membandingkan persentase perubahan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan persentase perubahan penjualan. Deskripsi operating laverage KPRI dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. Deskripsi operating laverage KPRI Kodya Malang 1996-1998
No.
Keterangan
Tahun
1996-1998
1996
1997
1998
1.                   
Terendah
-10,49
-7,17
-2,68
-0,77
2.                   
Tertinggi
12,85
3,26
32,71
8,79
3.                   
Rata-rata
1,07
-0,22
1,65
0,83
4.                   
≥ rata-rata
13
22
8
11
5.                   
˂ rata-rata
20
11
25
22
Sumber: Tesis Lampiran 14 diolah

            Dari tabel 5 dapat diketahui bahwa DOL terendah pada tahun 1996-1998 sebesar -0,77 dan tertinggi sebesar 8,79. DOL terendah terjadi karena penurunan EBIT yang tidak proporsional diikuti oleh peningkatan penjualan, dan tertinggi terjadi Karen naiknya EBIT yang tidak proporsional dengan kenikan penjualan. Jumlah KPRI yang mempunyai DOL diatas dan di bawah angka rata-rata sampel pada setiap tahun mencerminkan adanya fluktuasi. Hal ini menunjukkan bahwa laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) serta volume penjulan yang ada pada masing-masing KPRI juga berfluktuasi. Total rata-rata DOL KPRI sebesar 0,83 artinya setiap persen fluktuasi penjualan dari tahun dasarnya, akan menyebabkan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) berfluktuasi 0,83 kali lipat dengan arah yang sama. Atau dengan kata lain, kenaikan penjualan sebesar 10% akan mengakibatkan kenaikan EBIT sebesar 10% x 0,83 = 8,3%. Dan penurunan penjulan sebesar 10% x 0,83 = 8,3%. Semakin besar DOL maka berarti semakin besar pengaruh perubahan penjualan terhadap perubahan EBIT. Jika dihubungkan dengan SKEU KPRI, koperasi yang mempunyai SKEU tinggi mempunyai DOL yang tinggi, dan KPRI yang mempunyai SKEU yang rendah mempunyai DOL yang rendah.

6.    Ukuran Perusahaan

Dalam penelitian ini ukuran perusahaan ditentukan berdasarkan total aktiva dari masing-masing KPRI.

Tabel 6. Deskripsi ukuran perusahaan (KPRI) tahun 1996-1998
No.
Keterangan
Tahun
1996-1998
1996
1997
1998
1.                   
Terendah
15.912
19.414
29.662
21.669
2.                   
Tertinggi
2.849.119
3.036.451
3.613.762
3.166.444
3.                   
Rata-rata
390.915
449.427
444.021
426.121
4.                   
≥ rata-rata
8
8
8
9
5.                   
˂ rata-rata
25
25
25
24
Sumber: Tesis Lampiran 15 diolah

            Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ukyran KPRI terendah terjadi pada tahun 1996 dengan total aktiva sebesar Rp 15,9 juta, dan tertinggi terjadi pada tahun 1998 dengan total aktiva Rp 3,6 milyar. Terendah terjadi karena adanya penurunan piutang simpan pinjam (47%), penurunan piutang toko dan persediaan barang, yang diikuti menurunnya hutang pada PKPRI (48%), dan SHU tahun 1996 (62%). Total aktiva rata-rata industri KPRI mengalami penurunan pada tahun 1998, hal ini disebabkan oleh karena delapan KPRI mengalami penurunan total aktiva dan tidak sebanding dengan 25 KPRI yang mengalami peningkatan total aktiva. Dari segi jumlah KPRI yang mempunyai total aktiva di atas dan di bawah rata-rata industri setiap tahunnya tidak mengalami perubahan, hal ini antara lain disebabkan oleh karena adanya konsistensi keseimbangan masuk, keluar dan mutasi anggota pada setiap KPRI. Total rata-rata aktiva KPRI tahun 1996-1998 sebesar Rp 428 juta. Jumlah ini sekitar 7,95% tertanam pada aktiva tetap, 86% tertanam pada aktiva lancer dan selebihnya masuk dalam investasi lainnya. Jika dikaitkan dengan struktur keuangan, KPRI dengan SKEU tinggi mempunyai total aktiva yang besar dan KPRI dengan SKEU yang rendah mempunyai total aktiva yang kecil.




        7. Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibayar

            SHU yang dibayarkan menunjukkan besarnya dana yang dibagikan kepada anggota dari SHU yang diperoleh pada setiap periode. Dana inilah yang diterima dari masing-masing anggota sebanding dengan jasa usaha atau jasa modal yang diberikan kepada koperasi. Deskripsi SHU yang dibayarkan kepada anggota sebagai berikut:

Tabel 7. Deskripsi SHU yang dibayar KPRI 1996-1998
No.
Keterangan
Tahun
1996-1998
1996
1997
1998
1.                    
Terendah
497,7
501,3
790,65
952,35
2.                    
Tertinggi
116.662
136.683
151.764
135.023
3.                    
Rata-rata
12.020
14.650
14.644
13.772
4.                    
≥ rata-rata
7
8
9
8
5.                    
˂ rata-rata
26
25
24
25
Sumber: Tesis Lampiran 16 diolah

            Dari tabel ini diketahui bahwa SHU yang dibayarkan terendah pada tahun 1996, hal ini terjadi karena KPRI tersebut mengalami penurunan SHU pada tahun 1996 sebesar 62%, akibat menurunnya usaha simpan pinjam 47%. Tertinggi pada tahun 1998 terjadi karena peningkatan SHU pada tahun 1998, diikuti penurunan biaya, khususnya biaya organisasi dan manajemen. Jumlah KPRI yang melakukan pembayaran SHU diatas rata-rata menunjukkah adanya peningkatan, walaupun hanya satu untuk setiap tahunnya. Secara umum KPRI Kodya Malang melakukan pembayaran SHU di bawah rata-rata industri yaitu 25 KPRI. Total rata-rata SHU yang dibagikan tahun 1996-1998 sebesar Rp 13.771.550,-. Jika hal ini dibandingkan dengan total rata-rata SHU bersih KPRI 1996-1998 dalam persentase (Rp 30.527.200, maka diperoleh rasio rata-rata sebesar 45,11%, artinya secara umum KPRI Kodya Malang membayarkan SHU yang dibagikan kepada anggota dari SHU bersih adalah 45,11%.

Pengujian Hasil Penelitian

1.    Hasil Analisis Regresi Berganda

Berdasarkan operasi regresi antara variabel terikat SKEU (Y) dengan variabel bebas SAKT (X1), PPj (X2), ROA (X3), OLE (X4), UPER (X5), dan SHUDP (X6) KPRI diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 8. Hasil analisis regresi lenear berganda KPRI Kodya Malang
Variabel bebas
Koefisien Regresi
t-Statistik
t-Signifikan
Struktur aktiva (X1)
1,281
2,784
0,007*
Pertumbuhan penjualan (X2)
0,061
0,357
0,722
Return On Assets (X3)
-2,960
-3,229
0,002*
Operating Leverage (X4)
0,708
0,651
0,517
Ukuran perusahaan (X5)
0,027
4,497
0,000*
SHU yang Dibayar (X6)
-0,001
0,000
0,999
Konstanta
77,796
0,684
0,496
F- Sig.          = 0,000
R- Square    = 0,349
Multiple R   = 0,591



Sumber: Tesis Lampiran 19 diolah
Keterangan: * = Signifikan pada tingkat α = 1%.

            Hasil operasi regresi ini bila ditulis dalam bentuk model matematis diperoleh persamaan garis regresi sebagai berikut:

Y= 77,796 + 1,281X1 +0,061X2 – 2,960 X3 + 0,708X4 + 0,027X5 – 0,001X6

Pengujian Penyimpangan Asumsi Klasik

            Untuk menguji apakah model cukup baik sebagai dasar estimasi, maka diperlukan pengujian penyimpangan asumsi klasik yang mungkin ada yaitu multikolinearitas, autokorelasi, heteroskedastisitas. Selain itu uji asumsi kenormalan nilai residual dan linearitas juga dilakukan.

Uji Multikoliniaritas

            Untuk mendeteksi multikolinearitas dapat diketahui dengan melihat VIF ( variance inflation factor). Bila nilai VIF >10, maka terjadi multikolinearitas (Gujarati, 1995:339). Selain itu VIF tidak melebihi empat atau lima tidak terjadi multikolinearitas (William dan Douglas, 1990:490). Berdasarkan hasil analisis pada Lampiran 19 (Tesis) diketahui (VIF) seluruh variabel bebas berada dibawah nilai 2.

Uji Autokorelasi

            Untuk mengetahui/mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dipergunakan uji statistic d (Durbin Watson). Dalam tes DW dua sisi, terdapat lima daerah kemungkinan atas nilai d (Gujarati, 1995:422). Sesuai dengan tabel statistic d pada = 5% untuk n = 98 dan k = 6, diketahui nilai d1 = 1,550, d11 = 1,803 (Gujarati, 1995:820). Sehingga diperoleh (4- d11) = 2,197 dan (4- d1) = 2,450. Dari hasil analisis pada Lampiran 19 (Tesis), nilai DW sebesar 2,1764. Nilai DW ini terletak pada daerah tidak ada autokorelasi yaitu antara d11 dan (4- d11), dimana d11 < d < (4- d11) atau 1,803 < 2,176 < 2,197.

Uji Heteroskedastisitas

            Heteroskedastisitas merupakan gejala penyimpangan asumsi klasik, di mana kesalahan pengganggu dari setiap variabel bebas mempunyai varians yang tidak sama. Untuk menguji atau mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dalam penelitian ini digunakan uji Goldfeld Quandt. Hasila analisis yang disajikan pada Lampiran 19 (lanjutan), menunjukkan bahwa model regresi yang diperoleh bebas dari gejala heteroskedastisitas. Kesimpulan ini dibuktikan oleh karena Fhit. < Ftabel (Arief Sritua, 1993) yaitu 0,13 < 1,79. Hal ini berarti semua variabel bebas yang diajukan mempunyai varian yang sama (homoskedastisitas).

Uji Asumsi Kenormalan Nilai Residual

            Berdasarkan Lampiran 19 (Tesis), dari uji Kolmogorov-Smirnov diperoleh nilai peluang atau probabilitas (2-Tailed P) sebesar 0,1268. Nilai ini lebih besar dari α = 5%. Demikian juga (K-S Z) tabel α = 5% atau 1,1743 < 1,96.

Uji Asumsi Linearitas

            Asumsi linearitas terpenuhi jika hubungan antara nilai prediksi dengan nilai residual tidak memberikan suatu pola hubungan tertentu (acak). Berdasarkan Lampiran 19 (Tesis), dapat disimpulkan bahwa gambar yang diperoleh tidak menunjukkan pola yang beraturan, dalam hal ini asumsi linearitas terpenuhi.

Pengujian Hipotesis

            Untuk membuktikan secara empiris tiga hipotesis yang telah diajukan, maka hipotesis pertama dilakukan dengan uji-F, hipotesis kedua dengan uji-t, sedangkan hipotesis ketiga dilakukan dengan cara membandingkan nilai koefisien masing-masing variabel bebas pada beta standar. Dalam pengujian tersebut (uji-F dan uji-t) digunakan α = 5%.

Pengujian Hipotesis Pertama

            Dari tabel 8 di atas diketahui hasil uji F (α = 5%) dimana diperoleh nilai signifikan F sebesar 0,000. Sehingga dapat dinyatakan bahwa variabel SAKT, PPj, ROA, OLE, UPER, dan SHUDB secara simultan atau bersama-sama berpengaruh signifikan positif terhadap struktur keuangan. Hasil uji ini membuktikan hipotesis satu dalam penelitian ini yaitu Variabel SAKT, PPj, ROA, OLE, UPER, dan SHUDB secara simultan (bersama-sama) berpengaruh signifikan positif terhadap struktur keuangan KPRI Kodya Malang. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Firdiansyah (1998), windhyastiti (1998), dan Meivinita (1999).

Pengujian Hipotesis Kedua

            Uji t atau pengujian secara parsial diketahui dengan membandingkan anatar sig-t masing-masing variabel bebas dengan tingkat signifikan yang diajukan (α = 5%). Jika sig-t < α, berarti variabel-variabel bebas yang diajukan mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
            Dari tabel 8 dapat diketahui bahwa variabel SAKT, ROA, dan UPER mempunyai pengaruh signifikan pada α = 5% bahkan 1%.
            Uji t ini jika dikaitkan dengan hipotesis kedua yang dinyatakan bahwa variabel SAKT, ROA, dan UPER secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap SKEU, maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, artinya secara parsial SAKT, ROA dan UPER KPRI mempunyai pengaruh signifikan terhadap SKEU KPRI atau diinterpretasikan bahwa KPRI dalam menentukan SKEU memperhitungkan SAKT, ROA dan UPER secara parsial karena mempunyai pengaruh nyata.

Pengujian Hipotesis Ketiga

            Berdasarkan nilai koefisisen standar beta dan koefisien korelasi parsial variabel bebas, ukuran perusahaan (UPER atau X5) yang paling tinggi, sehingga merupakan variabel dominan yang mempengaruhi struktur keungan pada KPRI Kodya Malang artinya KPRI dalam menentukan SKEUnya pertama-tama mempertimbangkan UPER, kemudian ROA dan terakhir adalah SKAT. Ketiga variabel tersebut memberikan pengaruh terhadap penentuan SKEU masing-masing sebesar 42,60%, 32,10% dan 28%. Karena ukuran perusahaan merupakan variabel dominan, maka hipotesis ketiga yang menyatakan variabel struktur aktiva mempunyai mempunyai pengaruh dominan terhadap struktur keuangan tidak terbukti atau H0 diterima. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil yang ditemukan oleh Farida (1998), Firdiansyah (1998), dan Meivinita (1999). Hal ini disebabkan oleh karena cirri koperasi yang menghimpun individu sebagai anggota, pemilik dan pengguna jasa untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya secara umum masih dalam golongan ekonomi lemah, serta bersifat sukarela.

Interpretasi Koefisien Regresi Variabel Bebas
            Ditinjau dari koefisien masing-masing variabel bebas, sebagaimana yang tertera pada tabel 8, maka dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
1.    Koefisien variabel SAKT (X1) sebesar 1,281 artinya jika nilai koefisien lima variabel bebas lainnya dipertahankan maka perubahan variabel SAKT sebesar 1% akan memberikan pengaruh yang searah sebesar 1,281%. Tanda positif yang ada memberikan isyarat peningkatan yang searah, artinya jika SAKT KPRI meningkat maka SKEU KPRI juga akan meningkat. Hal ini sesuai dengan teori bahwa SAKT mempengaruhi sumber-sumber pembiayaan, yaitu apabila perusahaan mempunyai aktiva tetap jangka panjang, maka akan banyak menggunkan hutang jangka panjang, dan perusahaan yang sebagian besar aktivanya berupa piutang dan persedaiaan barang akan lebih tergantung pada pembiayaan jangka pendek (Weston dan Copeland, 1997:36). Dengan berpatokan pada uji t variabel SAKT KPRI berpengaruh signifikan positif terhadap SKEUnya (0,006<0 dengan="" dilakukan="" firdiasyah="" hasil="" ini="" konsisten="" o:p="" oleh="" penelitian="" widhyastiti="" yang="">
2.    Pertumbuhan penjualan. Nilai koefisien variabel PPj (X2) sebesar 0,061 memberikan arti bahwa apabila nilai koefisien lima variabel bebas lainnya dipertahankan atau tidak berubah, maka perubahan variabel PPJ KPRI sebesar 1% akan menyebabkan SKEU KPRI meningkat sebesar 0,061%. Arah positif berarti dengan adanya peningkatan PPJ KPRI, maka semakin berpeluang KPRI tersebut untuk menggunakan hutang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Weston dan Copeland (1997:35), bahwa jika penjualan dan laba meningkat, maka pembiayaan dengan hutang dan beban tetap akan meningkatkan pendapatan pemilik perusahaan. Hasil penelitian ini menemukan variabel PPJ tidak signifikan, artinya variabel PPJ KPRI secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap SKEUnya (0,722>0,05), dan mendukung hasil penelitian Firdiansyah (1998:76), Windhyastiti (1999:61), dan Meivinita (1999:58).
3.    Return On Assets (ROA). Nilai koefisien variabel ini sebesar negative 2,960. Nilai ini mempunyai arti bahwa jika nilai lima variabel bebas lainnya dipertahankan atau tidak berubah, maka perubahan ROA KPRI sebesar 1% akan menurunkan SKEUnya sebesar 2,960%. Tanda negative tersebut memberikan indikasi hubungan yang tidak searah atau berbanding terbalik artinya jika ROA KPRI meningkat, maka SKEUnya cenderung meningkat. Hasil ini sesuai dengan teori bahwa perusahaan yang mempunyai tingkat pengembalian investasi yang tinggi, cenderung menggunakan hutang yang relative kecil (Weston dan Brigham, 1997:175), serta memperkuat hasil penelitian Firdiansyah (1998:76), Meivinita (1998:58), dan Farida (1998:78), namun penelitian pada KPRI ini ROA bukan merupakan variabel dominan yang mempengaruhi SKEU. Hal ini disebabkan oleh karena KPRI bukan semata-mata mengejar keuntungan, akan tetapi mengutamakan pemenuhan kebutuhan anggotanya.
4.    Operating Leverage. Koefisien OLE KPRI sebesar 0,708 kali. Mengindikasikan bahwa apabila lima variabel bebas KPRI lainnya dipertahankan atau tidak berubah, maka perubahan variabel OLE 1 kali akan memberikan pengaruh yang searah terhadap SKEUnya sebesar 0,708 kali. Hasil uji t ditemukan variabel OLE tidak signifikan, artinya variabel OLE KPRI secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap SKEUnya (0,708>0,05). Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Firdiansyah (1998:76), Widyastiti (1999:61) bahwa OLE tidak mempengaruhi SKEU, namun kontradiktif mengenai arah hubungannya. Hal ini disebabkan oleh karena pada KPRI umumnya mempunyai OLE yang rendah yaitu dari 33 KPRI yang dijadikan sampel 22 KPRI pada tahun 1996-1998 mempunyai OLE di bawah rata-rata industry.
5.    Ukuran Perusahaan. Nilai koefisien variabel UPER sebesar 0,027, mengandung arti bahwa apabila nilai koefisien regresi lima variabel lainnya dipertahankan atau tidak berubah, maka perubahan variabel UPER KPRI sebesar 1% akan memberikan perubahan yang searah terhadap SKEUnya sebesar 0,027%. Karena UPER KPRI diukur berdasarkan total aktiva KPRI, maka hal ini berarti semakin besar aktiva KPRI, maka semakin besar penggunaan hutang yang dilakukan. Penelitian ini mendukung hasil penelitian Ferry dan Jones (1979), Firdiansyah (1998:84). Namun dalam penelitian ini ukuran perusahaan merupakan variabel dominan.
6.    SHU yang dibayar. Nilai koefisien SHUDB negative 0,001. Nilai ini mempunyai arti bahwa apabila lima variabel bebas lainnya dipertahankan atau tidak berubah, maka perubahan variabel SHUDB 1% akan memberikan pengaruh yang berlawanan sebesar 0,001% terhadap SKEUnya. Artinya jika pembayaran SHU dilakukan pada KPRI, maka penggunaan hutang akan semakin rendah sehingga SKEUnya juga akan menurun. PSAK No. 27 menyatakan bahwa komponen-komponen SHU anggota yang belum dicairkan disajikan dalam kelompok kewajiban lancer. Hasil uji t menunjukkan bahwa SHUDB KPRI tidak mempunyai pengaruh yang berarti terhadap SKEU KPRI (0,999>0,05). Hasil penelitian ini memperkuat temuan Firdiansyah (1998:78) bahwa semakin besar pembayaran deviden, maka semakin rendah penggunaan hutang oleh perusahaan.

Interpretasi Koefisien Determinasi (R-Square)
            R-Square menunjukkan proporsi variabel devenden yang dijelaskan oleh variabel independen atau mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas menjelaskan variabel terikat.
            R-Square dari hasil regresi berganda yang telah dilakukan (tabel 8) diketahui mempunyai nilai sebesar 0,3489 atau 34,89%, artinya secara keseluruhan variabel bebas yang diajukan dapat menjelaskan perubahan SKEU KPRI sebesar 34,89%, dan selebihnya (65,11%) dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terliput dalam model ini. Besarnya R-Square dalam penelitian ini rendah, namun secara teori dapat diterima mengingat banyaknya variabel-variabel lain yang belum dimasukkan sebagai variabel analisis sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.    Struktur keuangan Koperasi Pegawai Republik Indonesia Kodya Malang pada umumnya mempunyai rasio yang rendah, artinya KPRI Kodya Malang dalam membelanjai aktivanya menggunakan modal sendiri lebih besar dari pada hutang. 23 KPRI (70%) menggunakan struktur keuangan lebih rendah dari rata-rata industri, dan hanya 10 KPRI (30%) yang menggunakan struktur keuangan di atas rata-rata industri. Enam KPRI menggunakan hutang lebih besar dari modal sendiri. Kebijakan ini merupakan suatu langkah yang tepat dari segi ROA karena tingkat pengembalian aktiva (ROA) KPRI lebih menguntungkan/tinggi jika mempergunakan SKEU yang rendah (kurang dari rata-rata sampel) daripada mempergunakan SKEU yang tinggi (lebih besar dari rata-rata sampel atau lebih besar dari modal sendiri). SKEU KPRI yang rendah juga mengindikasikan bahwa KPRI tidak mempunyai aktiva tetap yang cukup untuk dijadikan jaminan dalam memperoleh hutang jangka panjang. PPJ KPRI lebih meningkat pada SKEU yang rendah daripada SKEU yang tinggi. Operating Laverage rendah pada SKEU kurang 100% dan meningkat pada SKEU yang tinggi atau KPRI menggunakan hutang lebih besar dari modal sendiri. Namun jika ditinjau dari ukuran KPRI dapat disimpulkan bahwa KPRI dengan SKEU yang tinggi mempunyai total aktiva yang lebih besar daripada KPRI dengan SKEU yang rendah.
2.    Berdasarkan pengujian simultan diketahui bahwa keenam variabel bebas yang diajukan dalam penelitian ini yaitu struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return on assets, operating laverage, ukuran perusahaan dan SHU yang dibayar secara simultan berpengaruh signifikan positif terhadap struktur keuangna KPRI Kodya Malang, artinya keenam variabel bebas tersebut secara bersama-sama selalu diperhitungkan di dalam menentukan struktur keuangan KPRI.
3.    Dari hasil pengujian parsial dapat diungkapakan bahwa dari enam variabel bebas yang diajukan, tiga diantaranya yaitu struktur aktiva, return on assets, dan ukuran perusahaan secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap struktur keuangan, artinya penetapan struktur keuangan KPRI secara individu memperhitungkan tiga variabel bebas yang berpengaruh nyata tersebut.
4.    Ukuran perusahaan adalah variabel dominan yang mempengaruhi struktur keuangan KPRI dari enam variabel bebas yang diajukan. Atinya di dalam penetapan kebijakan struktur keuangan KPRI, variabel ukuran perusahaan memerlukan perhatian utama, karena memberikan sumbangan yang dominan dibandingkan sumbangan variabel ROA dan SAKT. Hal ini sesuai dengan cirri koperasi (KPRI) yang menghimpun individu sebagai anggota pemilik dan pengguna jasa untuk meningkatkan kesejahteraannya, serta keanggotaan bersifat sukarela. Pengaruh dominan ini diperlihatkan oleh nilai tertinggi pada koefisien standar beta dan koefisien korelasi parsial hasil regresi.
5.    Nilai R-Square yang diperoleh sebesar 34,89% menunjukkan bahwa variabel-variabel bebas yang diajukan secara bersama-sama dapat menjelaskan pola perubahan struktur keuangan KPRI Kodya Malang sebesar 34,89%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.
Keterbatasan penelitian

            Hasil penelitian ini disimpulkan dengan berbagai keterbatasan sebagai kelemahan antara lain yaitu:
1.    Karena keterbatasan teori-teori tentang variabel-variabel struktur keuangan koperasi, maka teori-teori dan hasil penelitian yang digunakan dalam penelitian ini banyak mengacu pada teori keuangan perusahaan yang profit oriented.
2.    Data-data keuangan yang diperoleh dari laporan keuangan KPRI dan dijasikan data analisis tidak dilakukan pemisahan antara kontribusi dari anggota dan bukan anggota.
3.    Nilai R-Square yang diperoleh rendah, mengingat masih ada variabel lain seperti sikap manajemen, sikap pemberi pinjaman, kondisi pasar dan sebagainya, dapat mempengaruhi struktur keuangan KPRI belum dimasukkan dalam variabel analisis.

Saran-Saran

1.    Dengan berpatokan pada kontribusi R-Square yang diperoleh dari enam variabel bebas yang diajukan yaitu struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return on assets, operating laverage, ukuran perusahaan dan SHU yang dibayarkan, maka kepada pihak manajemen atau pengelola koperasi khususnya KPRI untuk tetap mempertimbangkan variabel lain yang tidak terliput dalam penelitian ini, seperti sikap manajemen, sikap pemberi pinjaman, kondisi pasar dan lain-lain.
2.    Melihat rata-rata struktur keuangan KPRI yang masih rendah, maka disarankan kepada manajemen atau pengelola untuk memanfaatkan peluang meningkatkan struktur keuangan agar pemanfaatan pelayanan anggota khususnya simpan pinjam dapat terpenuhi, tanpa melupakan usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan memperoleh laba, memperbesar aktiva tetap dan total aktiva.
3.    Kepada Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia sebagai Pembina dan pengayom KPRI-KPRI yang ada, disarankan untuk melakukan pelatihan-pelatihan mengenai tertib administrasi khusunya keseragaman dalam pelaporan keuangan.
4.    Bagi para peneliti yang tertarik untuk meneliti variabel-variabel yang mempengaruhi struktur keuangan koperasi khususnya KPRI, disarankan untuk menambah variabel, terutama variabel-variabel kualitatif dan memperluas jenis koperasi yang akan diteliti.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (1998) TAP No. X/MPR/1998, Tentang Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyealamatan Dan Normalisasi Kehidupan Nasional Sebagai Haluan Negara. Bina Pustaka Tama, Surabaya.

Arsyad, Lincolin. (1993) Ekonomi Manajerial, Ekonomi Mikro Terapan Untuk Manajemen Bisnis. Edisi Ketiga, BPFE, Yogyakarta.

Baridwan, Zaki. (1996) Intermediate Accounting. Edisi ketujuh, BPFE, Yogyakarta.

Billingsley, R.S. et al. (1994) Simultaneous Debt and Equity Issues an Capital Structure Targets. Journal of financial Research, Vol. XVII, No.4. 495-516.

Clarke, R.G. et al. (1990) Strategic Financial Management. Toppan Co. Ltd, Tokyo Japan.

Farida, Ilya. (1998) Analisis variabel-variabel yang menentukan struktur modal beberapa perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Jakarta. Tesis, Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.

Ferry, M.G. & Jones, W.H. (1979) Determinats of Financial Structure: A New Methodological Approach. Journal of Finance, Vol. XXXIV, No.3.
Firdiansjah, Ahmad. (1998) Analisis beberapa variabel yang mempengaruhi struktur keuangan pada industri properti. Tesis, Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.

Gardner, J.C. & Trzcinka, C.A. (1992) All Equity Firms and The Balancing Theory of Capital Structure. Journal of Financial Research, Vol. XV, No.1.
Gujarati, N. Damodar. (1995) Basic Econometrics. Third Edition, McGraw-Hill Inc.

Gujarati, Damodar. (1995) Ekonometrika Dasar. Alih Bahasa Sumarno Zein. Erlangga, Jakarta.

Harianto dan Sudomo. (1998) Perangkat dan Teknik Analisis Investasi Di Pasar Modal Indonesia. Bursa Efek Jakarta, Jakarta.

Hendar dan Kusnadi. (1999) Ekonomi Koperasi, Untuk Perguruan Tinggi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Hendrojogi. (1998) Koperasi, Azas-Azas, Teori dan Praktek. Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Husnan, Suad dan Pudjiastuti, Enni. (1996) Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. UUP AMP YKPN, Yogyakarta.

Ikatan Akuntansi Indonesia. (1994) Standar Akuntansi Keuangan. Buku Satu dan dua, Salemba Empat, Jakarta.

Ismangil, Wagiono. (1999) Pengembangan Struktur Bisnis Untuk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (Sebuah Usulan). Warta Koperasi No. 66, 25-26.

Ismawan, Indra. (1999) Kredit Usaha Kecil Plus Pendampingan (Secara Individual/Kelompok): Alternaif Pemberdayaan Usaha Kecil. Usahawan No. 12, Th XXVIII, 15.

Kieso, D.E. & Weygandt, J.J. (1995) Akuntansi Intermediate. Jilid Tiga, Binarupa Aksara, Jakarta.

Meivinita. (1999) Analisis beberapa variabel yang mempengaruhi struktur keuangan perusahaan jasa perhotelan yang go public di Indonesia. Tesis,Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.
Miswanto dan Hisnan, suad. (1999) The effect of Operating Leverage, Cyclicality, and Firm Size On Business Risk. Gadjah Mada International Journal Of  Business, Vol 1. No. 1. 29-43.

Moh’d, Mahmoud A. et al. (1998) The Impact of Ownership Structure On Corporate Debt Policy: a Time-Series Cross Sectional Analysis. Financial Review 33, 85-98.

Nurdin, Bahri. (1997) Penegmbangan Modal Bergulir Koperasi Melalui Pemupukan SHU Milik Anggota: Kasus Koperasi Luar Negeri. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Raviv,A. and Harris,M. (1991) The Theory of capital Structure. Journal of finance, Vol.XLVI, No.1.

Rietveld, Piet dan Sunaryanto, L.T. (1994) 87 Masalah Pokok Dalam Regresi Berganda. Andi Offset, Yogyakarta.

Riyanto, Bambang. (1996) Dasar-Dasar Pembelajaran Perusahaan. Edisi Keempat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sartono, Agus. (1996) Manajemen Keuangan: Teori dan Aplikasi. Edisi ketiga, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Soeratno dan Arsyad, Lincolin. (1993) Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis. Edisi Revisi, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Suman, Agus. (1999) Strategi Pembangunan Menuju Indonesia Baru. Seminar Nasional dan Silaturahmi Alumni Mahasiswa Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.

Sumarni, Murti dan Soeprihanto. (1999) Pengantar Bisnis (Dasar-Dasar Ekonomi Perusahaan). Edisi kelima, Liberty, Yogyakarta.

Sutrisno. (1999) Analisi Transaksi Anggota Untuk Meningkatkan Layanan Usaha Koperasi Di Koperasi Pegawai Negeri (KPRI) Kodya Malang. Tesis, Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.

Syamsuddin, Lukman. (1998) Manajemen keuangan Perusahaan: Konsep Aplikasi Dalam Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan. Edisi baru, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Thoyib, Armanu. (1999) Tantangan Manajemen Bisnis Bagi Usaha Kecil Menengah Dan Koperasi Di Era Global. Seminar Nasional Dan Silaturahmi Alumni-Mahasiswa Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.

Tugiman, Hiro. (1996) Akuntansi Untuk Badan Usaha Koperasi. Kanisius, Yogyakarta.

Weston, J.F. & Brigham, E.F. (1997) Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Edisi kesembilan, Jilid satu dan dua, Erlangga, Jakarta.

Weston, J.F. & Copeland,T.E. (1997) Manajemen Keuangan. Edisi kesembilan, Jilid satu dan dua, Binarupa Aksara, Jakarta.

Williem, Douglas. (1990) Probabilitas Dan Statistic Dalam Ilmu Rekayasa Dan Manajemen. Edisi kedua, Terjemahan, UI Press, Jakarta.

Widhyastiti, Irany. (1999) Analisis fakto-faktor yang mempengaruhi struktur keuangan dan pengaruhnya terhadap biaya modal pada industry makanan dan minuman, dan industry jasa (lembaga pembiayaan) di Bursa Efek Jakarta. Tesis, Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.


Wirasasmita, Yuyun dan Arifin, Ramudi. (1994) Reformasi Koperasi dan Pemasyarakatan UU No. 25/1992. Warta Koperasi No.57 Th.XII.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar