ANALISIS VARIABEL-VARIABEL YANG
MEMPENGARUHI STRUKTUR KEUANGAN
(Studi Kasus
pada Koperasi Pegawai Republik Indonesia Kodya Malang)
M. Yusuf A.
Ngampo*
Abstrak: Mengabaikan
perekonomian kerakyatan dan pemberian porsi konglomerasi (swasta) dan BUMN
lebih besar daripada koperasi merupakan salah satu penyebab terjadinya krisis
di Indonesia. Oleh karena itu pengkajian solusi terhadap permasalahan
pengembangan koperasi perlu selalu dilakukan mengingat di dalam badan usaha
koperasi merefleksikan suatu lembaga ekonomi rakyat dimana anggota adalah
pelanggan sekaligus pemilik yang bekerja berdasarkan prinsip-prinsip dasar dan
berasaskan kekeluargaan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota khususnya dan
masyarakat pada umumnya. Upaya untuk mengetahui penerapan struktur keuangan
pada KPRI, dan variabel-variabel yang mempengaruhi struktur keuangan KPRI
dengan harapan informasi yang diperoleh dapat menjadi bahan pertimbangan manajemen
dalam menentukan struktur keuangan untuk meningkatkan nilai koperasi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa: 1) Struktur keuangan KPRI Kodya Malang mempunyai
rasio yang rendah artinya secara umum KPRI menggunakan modal sendiri lebih
besar daripada hutang. 2) Variabel struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return on assets (ROA), overating leverage, ukuran
perusahaan dan sisa hasil usaha yang dibayarkan secara simultan berpengaruh
signifikan positif terhadap struktur keuangan, sehingga variabel-variabel
tersebut secara bersama-sama perlu dipertimbangkan di dalam menetapkan struktur
keuangan KPRI. 3) Dari enam variabel bebas yang diajukan, secara parsial tiga
variabel yaitu struktur aktiva, return on
assets (ROA), dan ukuran perusahaan secara signifikan mempengaruhi struktur
keuangan KPRI, dan variabel ukuran perusahaan merupakan variabel dominan.
Kata-kata kunci:
struktur keuangan
|
Haluan
negara tentang pokok-pokok reformasi pembangunan memberikan gambaran kondisi
yang menyebabkan terjadinya krisis di Indonesia antara lain: penyelenggaraan
perekonomian nasional kurang mengacu pada amanat pasal 33 UUD 1945, di mana
mengabaikan perekonomian kerakyatan, porsi konglomerasi (swasta) dan BUMN lebih
besar daripada koperasi, dan pengusaha yang dekat dengan elit kekuasaan
mendapatkan prioritas khusus, sehingga berdampak timbulnya kesenjangan sosial.
Suman (1995) menyatakan porsi konglomerasi/swasta terhadap penguasaan
perekonomian 70% (120 orang), BUMN 20% (166 orang), dan Koperasi hanya 10%.
Jumlah usaha kecil dan koperasi (UKK) menurut Ismawan (1999) sekitar 34 Juta
unit usaha dengan kontribusi 38,9% terhadap produk domestik bruto pada tahun
1997.
Masalah
yang dihadapi koperasi dalam bidang pemasaran, produksi, sumber daya manusia,
pembelajaran dan akuntansi, merupakan serentetan persoalan internal dan
eksternal yang perlu dicarikan solusi agar dapat bekerja efisien dan
profesional sehingga lebih mendapat simpati dari anggota dan masyarakat. Khusus
masalah permodalan, kendala usaha kecil, menengah dan koperasi 16,1% (Thoyib,
1999).
Isu penting yang dihadapi oleh para
manajer keuangan adalah hubungan antara struktur modal dan nilai perusahaan
(Sartono, 1996). Induk struktur modal perlu diketahui yaitu struktur keuangan
yang mencerminkan perimbangan secara keseluruhan hutang perusahaan dengan modal
sendiri. Memperhatikan struktur keuangan memberikan suatu analisis penentuan
komposisi elemen sumber keuangan yang dapat meningkatkan nilai perusahaan. Jika
perubahan komposisi elemen sumber keuangan tidak menyebabkan perubahan terhadap
nilai perusahaan berarti tidak ada struktur keuangan yang terbaik (semuanya
baik), tetapi kalau merubah komponen struktur keuangan ternyata nilai
perusahaan bertambah, maka akan diperoleh struktur keuangan yang terbaik.
Keadaan ini dapat terjadi oleh karena beberapa ahli dan peneliti mengemukakan
faktor-faktor yang mempengaruhi struktur keuangan atau struktur modal seperti
Ferry dan Jones (1979), Weston dan Copeland (1997), Sartono (1996), Weston dan
Brigham (1997), Machmoud Moh’d (1998), dan lain-lain.
Penelitian yang dilakukan pada KPRI
Kodya Malang berusaha melihat dan menganalisis beberapa variabel yang
dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas yaitu variabel struktur aktiva,
pertumbuhan penjualan, return on asset
(ROA), operating leverage, ukuran perusahaan, dan sisa hasil usaha (SHU)
yang dibayarka terhadap struktur keuangan. Variabel ini ditetapkan berdasarkan
pertimbangan bahwa variabel-variabel tersebut merupakan komponen penting dalam
laporan keuangan koperasi dan menjadi faktor utama dalam menentukan struktur
keuangan KPRI. Variabel sisa hasil usaha yang dibayarkan memperoleh perhatian
khusus mengingat variabel ini secara kongkrit menyajikan bahagian laba atau
keuntungan yang diperoleh para anggota koperasi sebagai pelanggan dan pemilik,
sehingga analisis ini dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan para anggota
untuk menilai kemanfaatan menjadi anggota koperasi. Selain itu memberikan
informasi yang dapat dijadikan solusi dalam pengembangan koperasi khususnya
variabel SHU yang dibayarkan.
Bertitik tolak dari uraian di atas,
dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana penerapan struktur keuangan di
lingkungan Koperasi Pegawai Republik IndonesiaKodya Malang, Apakah variabel
struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, profitabilitas
(return on assets), operating leverage, ukuran perusahaan, dan pembayaran
sisa hasil usaha (SHU) mempunyai pengaruh terhadap struktur keuangan Koperasi
Pegawai Republik Indonesia Kodya Malang? Dari variabel-variabel tersebut,
variabel manakah yang berpengaruh dominan pada struktur keuangan Koperasi
Pegawai Republik Indonesia Kodya Malang?
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui penerapan struktur keuangan dilingkungan KPRI Kodya Malang,
mengidentifikasi pengaruh variabel struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return on asset (ROA), operating leverage, ukuran
perusahaan, dan pembayaran SHU terhadap struktur keuangan KPRI Kodya Malang,
dan mengetahui variabel dominan dari variabel-variabel struktur aktiva,
pertumbuhan penjualan, return on asset
(ROA), operating leverage, ukuran perusahaan, dan pembayaran SHU terhadap
struktur keuangan KPRI Kodya Malang.
KERANGKA PEMIKIRAN
DAN HIPOTESIS
Manajemen keuangan menyangkut
kegiatan perencanaan, analisis, dan pengendalian kegiatan keuangan. Banyak
keputusan yang harus diambil oleh pengelola keuangan (manajer keuangan
koperasi), dan berbagai kegiatan yang harus dijalankan. Akan tetapi bila
dikelompokkan, kegiatan tersebut menyangkut kegiatan menggunakan dana dan
mencari pendanaan. Weston dan Copeland (1997) menyatakan bahwa struktur
keuangan adalah cara bagaimana perusahaan membelanjai aktivanya, dan dapat
dilihat pada seluruh sisi kana neraca. Clarke et.al. (1990) menyatakan bahwa
manager keuangan umumnya akan memilih pendanaan internal disbanding sumber-sumber eksternal. Sumber-sumber
eksternal akan digunakan jika dana internal
telah terpakai.
Dalam badan usaha koperasi simpanan
asal anggota (simpanan pokok, simpanan wajib, dan sejenisnya), pemupukan modal
donasi, cadangan, dan SHU yang akan dibagi merupakan modal sendiri. Sedangkan
modal pinjaman dapat berasal dari anggota, koperasi lainnya dan atau
anggotanya, bank dan lembaga keuangan lainnya, penerbitan obligasi dan surat
utang lainnya serta penyertaan. Khusus mengenai modal penyertaan ketentuannya
diatur dalam peraturan pemerintah (UU No. 25/1992 Pasal 42), dengan prinsip
bahwa pengendalian dan pengelolaan koperasi tetap ditangan para anggota, modal
digunakan secara efisien dan untuk usaha-usaha yang bermanfaat bagi anggota.
Perbandingan keseluruhan pinjaman (jangka pendek dan jangka panjang) dengan
modal sendiri membentuk struktur keuangan koperasi. Riyanto (1996) memberikan
batas imbangan yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan mengenai besarnya
dana dari luar (hutang) dengan modal sendiri yang dikenal dengan aturan
struktur keuangan konservatif vertikal. Aturan ini menetapkan bahwa dalam
keadaan bagaimanapun modal asing tidak boleh melebihi besarnya modal sendiri.
Selanjutnya struktur keuangan konservatif horizontal menetapkan aturan bahwa
besarnya aktiva tetap dan persedaiaan besi harus sepenuhnya dibelanjai dengan
modal sendiri, atau dapat dikatakan bahwa besarnya modal sendiri tidak boleh
lebih kecil/kurang dari aktiva tetap plus persediaan besi, karena hal ini akan
mengganggu likuiditas badan usaha.
Variabel-Variabel yang
Mempengaruhi Struktur Keuangan
1. Struktur
Aktiva
Struktur
aktiva merupakan perbandingan antara aktiva lancer dengan aktiva tetap.
Struktur aktiva yang tinggi berarti perusahaan (koperasi) lebih banyak
membelanjakan dananya pada sector aktiva lancer, sehingga memberikan indikasi
adanya ketidakmampuan koperasi dalam menjamin hutang jangka panjang yang
dipinjamnya. Sebaliknya struktur aktiva yang rendah berarti perusahaan lebih
banyak membelanjakan dananya pada sector aktiva tetap, sehingga ,memberikan
indikasi adanya kemampuan koperasi untuk menjamin hutang jangka panjangnya.
Firdiansjah, Farida (1998) menemukan struktur aktiva mempunyai pengaruh nyata
baik secara simultan mauapun persial terhadap struktur keuangan/struktur modal.
2. Pertumbuhan
penjualan
Perusahaan
dengan tingkat penjualan stabil akan mudah memperoleh pinjaman dibandingkan
perusahaan yang tingkat penjualannya stabil (Weston dan Brigham, 1997).
Demikian juga perusahaan yang tingkat pertumbuhan penjualannya tinggi
mencerminkan tingkat pertumbuhan perusahaan tinggi. Perusahaan dengan tingkat
pertumbuhan yang tinggi akan membutuhkan dana untuk membiayai pertumbuhan
tersebut. Jika sebagian keuntungan yang diperoleh digunakan untuk membiayai
pertumbuhan tersebut, maka dana untuk membayar pembahagian laba pemilik akan
rendah, sehingga perusahaan cenderung untuk mencari dana dari luar atau hutang.
Pertumbuhan penjualan mepunyai pengaruh yang tidak nyata terhadap struktur
keuangan (Fiediansjah, 1998).
3. Return
On Assets (ROA)
Perusahaan
dengan tingkat ROA yang tinggi, umumnya menggunkan hutang dalam jumlah yang
relatif kecil, hal ini disebabkan oleh karena perusahaan tersebut memungkinkan
melakukan permodalan dengan laba yang ditahan (Weston dan Brigham, 1997).
Variabel return on assets mempunyai
pengaruh signifikan negatif terhadap struktur modal (Farida, 1998). Fardiasyah
(1998), Meivinita (1999) menemukan ROA berpengaruh signifikan negative terhadap
struktur keuangan.
4. Operating
Leverage
Penggunaan
operating leverage mengharapkan perubahan penjualan akan mengakibatkan
perubahan EBIT yang lebih besar. Weston dan Brigham (1997) menyatakan bahwa
perusahaan dengan leverage operasi
yang kecil lebih mampu memperbesar leverage
keuangan, karena interaksi leverage operasi
dan keuanganlah yang mempengaruhi penurunan penjualan terhadap laba operasi dan
arus kas bersih secara keseluruhan. Dengan demikian perusahaan dengan DOL (degree of operating leverage) yang
tinggi cenderung menggunakan hutang yang lebih kecil dari pada perusahaan dengan
DOL yang rendah. Hal ini disebabkan karena DOL yang tinggi menunjukkan
kemungkinan adanya resiko bisnis yang tinggi. Hasil penelitian Farida,
operating laverage berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, dan tidak
berpengaruh signifikan terhadap struktur keuangan (Firdiansjah).
5. Ukuran
perusahaan
Ferry
dan Jones (1979) memberikan skala perusahaan berdasarkan; total penjualan,
total aktiva, rata-rata tingkat penjualan, dan rata-rata total aktiva, dan
dinyatakan bahwa ukuran perusahaan mempunyai pengaruh positif dan signifikan
terhadap struktur keuangan. Beberapa peneliti menggunakan penjualan atau asset
untuk mengukur besarnya perusahaan. Pertumbuhan penjualan atau asset yang
bernilai positif berarti mencerminkan semakin besar ukuran perusahaan, dan
investor percaya bahwa ukuran perusahaan mempunyai hubungan dengan risiko,
karena semakin besar perusahaan maka terdapat kecenderungan perusahaan akan
menggunakan modal (hutang) yang semakin besar.
6. Sisa
Hasil Usaha (SHU) yang Dibayarkan
Apabila
perusahaan memilih untuk membagikan laba, maka akan mengurangi laba yang
ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber dana intern (internal financing). Sebaliknya jika perusahaan memilih
menahan laba yang diperoleh, maka kemampuan pembentukan dan intern akan semakin besar. Kebijakan ini
dibenarkan oleh Husnan (1996) jika menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih
tinggi dari biaya modal sendiri. Olehnya itu kebijakan pembagian laba akan
menentukan struktur keuangan perusahaan. Variabel dividend payout ratio berpengaruh signifikan negative terhadap SK
(Firdiansjah,1998). Dalam koperasi, rapat anggota menentukan kebijakan
pembagian SHU. Komponen-komponen yang termasuk dalam bagian SHU yang belum
dicairkan disajikan dalam kelompok kewajiban lancer (PSAK No. 27). Bagian SHU
yang disisihkan untuk dijadikan penyertaan dalam modal koperasi perlu kejelasan
yang rinci (Nurdin, 1997).
Hipotesis
Berdasarkan kajian teori, penelitian
terdahulu, dan permasalahan yang dikemukakan, maka dinyatakan hipotesis
penelitian ini bahwa variabel struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return on assets (ROA), operating leverage, ukuran
perusahaan, dan SHU yang dibayarkan, secara simultan berpengaruh signifikan
positif terhadap struktur keuangan Koperasi Pegawai Republik Indonesia Kodya
Malang. Diduga bahwa variabel struktur aktiva, on assets (ROA) dan ukuran perusahaan secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap struktur keuangan
KPRI Kodya Malang, kemudian diduga bahwa variabel struktur aktiva mempunyai
pengaruh dominan terhadap strktur keuangan KPRI Kodya Malang.
METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Penelitian
Populasi penelitian ini adalah
seluruh Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) yang menjadi anggota pada
Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) Kodya Malang, yaitu sebanyak
66 KPRI.
Sampel berdasarkan metode purposive sampling dengan criteria bahwa
KPRI mempunyai unit usaha simpan pinjam dan waserda (toko), jumlah anggota
minimal 30 orang, memperoleh badan hokum lebih dari tujuh tahun, dan
melaksanakan RAT secara berturut-turut empat tahun terakhir.
Kriteria ini didasarkan pada
pertimbangan bahwa usaha simpan pinjam dan usaha pertokoan dapat memenuhi
kebutuhan data variabel penelitian (jumlah kredit yang disalurkan/pendapatan
dan hasil penjualan barang/jasa). Jumlah anggota minimal 30 orang dapat
memenuhi syarat pendirian suatu koperasi primer. Berbadan hukum lebih dari
tujuh tahun dan sekurang-kurang melakukan RAT berturut-turut empat tahun
terakhir mengindikasikan bahwa KPRI telah beroperasi, dan baik secara
administrasi keuangan sehingga data yang diperoleh lebih terjamin. Dari
kriteria ini ditetapkan 33 KPRI sebagai sampel.
Metode Pengumpulan
Data
Dalam penelitian ini digunakan data
primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengurus KPRI-KPRI dan
pengurus PKPRI berupa pendapat dan penjelasan-penjelasan berkaitan dengan
permasalahan penelitian. Data sekunder berupa laporan keuangan selama empat
tahun mulai dari tahun 1995 sampai tahun 1998 berupa Neraca, Laporan Hasil
Usaha, serta laporan-laporan yang terkait, dan telah disahkan oleh Rapat
Anggota Tahunan (RAT).
Spesifikasi
Variabel
Variabel terikat (Dependent Variabel) adalah struktur
keuangan. Dihitung dengan membandingkan total hutang dengan modal sendiri KPRI
yang diteliti dengan satuan persentase (%), dan diberi lambang Y.
Variabel bebas (Independent Variabel); yaitu variabel-variabel yang diduga secara
bebas berpengaruh terhadap variabel terikat (Y). variabel-variabel bebas
tersebut adalah struktur aktiva (SAKT), pertumbuhan penjualan (PPJ), return on assets (ROA), operating laverage
(OLE), ukuran perusahaan (UPER), dan SHU yang dibayarkan (SHUDB). Variabel
bebas diberi lambang X1 ……. X6.
Model Analisis Data
Model analisis yang digunakan untuk
menguji hipotesis adalah model analisis regresi linear berganda. Model ini
dipergunakan oleh karena untuk mengetahui pengaruh secara langsung
variabel-variabel yang mempengaruhi struktur keuangan. Model ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
Y=
β0+β1X1+β 2X2+β 3X3+β 4X4+β 5X5+β 6X6+e
Dari
model formulasi dijelaskan bahwa:
Y = Struktur Keuangan (SKEU)
β0 = Konstanta
X1 = Struktur aktiva (SAKT)
X2 =
Pertumbuhan Penjualan (PPJ)
X3 =
Return On Assets (ROA)
X4 =
Operating Laverage (OLE)
X5 = Ukuran
Perusahaan (UPER)
X6 = SHU yang dibayarkan
(SHUDB)
e =
Kesalahan Pengganggu
β0……β 6 = Koefisien Regresi
HASIL PENELITIAN
DAN PEMBAHASAN
1. Struktur
Keuangan
Struktur
keuangan diukur dengan membandingkan antara total hutang KPRI dengan modal
sendiri KPRI (simpanan pokok dan simpanan wajib, pemupukan modal donasi,
cadangan dan sisa hasil usaha yang akan dibagi), dinyatakan dlam presentase.
Struktur keuangan mencerminkan besarnya proporsi pandanaan melalui hutang
terhadap modal sendiri.
Table
1. Deskripsi Kondisi Struktur Keuangan KPRI 1996-1998
|
No.
|
Keterangan
|
Tahun
|
1996-1998
|
||
|
1996
|
1997
|
1998
|
|||
|
1.
|
Terendah
|
14,64
|
10,41
|
4,18
|
13,39
|
|
2.
|
Tertinggi
|
239,50
|
223,66
|
151,86
|
195,28
|
|
3.
|
Rata-rata
|
69,22
|
65,92
|
54,84
|
63,33
|
|
4.
|
≥ rata-rata
|
10
|
10
|
14
|
10
|
|
5.
|
˂ rata-rata
|
23
|
23
|
19
|
23
|
|
6.
|
≥ 100%
|
6
|
6
|
4
|
6
|
|
7.
|
˂ 100%
|
27
|
27
|
29
|
27
|
Sumber:
Tesis Lampiran 10 diolah
Dari tabel di atas diketahui rasio
struktur keuangan ditinjau dari masing-masing koperasi terendah terjadi pada
tahun 1998 (4,18%), dan tertinggi terjadi pada tahun 1996 (239,50%). Struktur
keuangan terendah berarti bahwa KPRI tersebut di dalam operasinya menggunakan
hutang sebesar 4,18%, sedangkan selebihnya merupakan modal sendiri, atau dapat
dikatakan bahwa hutang sebesar Rp 4,18 dijamin modal sendiri sebesar Rp 100.
SKEU rendah disebabkan adanya pelunasan hutang PKPRI pada tahun 1998. KPRI
dengan struktur keuangan tertinggi, mencerminkan bahwa KPRI ini menggunakan
hutang 2,395 kali lebih besar dari modal sendiri, artinya hutang KPRI sebesar
Rp 239,5 dijamin modal sendiri hanya sebesar Rp 100. Struktur keuangan
rata-rata sampel bergerak menurun, hal ini mengindikasikan adanya penurunan
hutang KPRI secara keseluruhan atau peningkatan jumlah modal sendiri KPRI yang
tidak diimbangi dengan peningkatan hutang. SKEU KPRI Kodya Malang.
SKEU KPRI Kodya Malang secara umum
rendah, dimana 27 KPRI mempunyai SKEU lebih kecil dari rata-rata sampel. Total
rata-rata SKEU KPRI 63,33% artinya setiap hutang Rp 66,33 dijamin modal sendiri
sebesar Rp 100,- jadi KPRI Kodya Malang membelanjai aktivanya menggunakan modal
sendiri lebih besar daripada hutang. Kebijakan pembelajaran KPRI ditinjau dari
segi ROA, lebih menguntungkan dengan SKEU rendah dari pada SKEU tinggi Lampiran
9 (Tesis).
2. Struktur
Aktiva
Struktur
aktiva dimaksudkan untuk mengetahui porsi pendanaan aktiva tetap dari total
aktiva atau membandingkan antara aktiva tetap dengan total aktiva.
Tabel
2. Deskripsi struktur aktiva KPRI Kodya Malang tahun 1996-1998
|
No.
|
Keterangan
|
Tahun
|
1996-1998
|
||
|
1996
|
1997
|
1998
|
|||
|
1.
|
Terendah
|
0,04
|
0,03
|
0,01
|
0,03
|
|
2.
|
Tertinggi
|
42,52
|
34,76
|
45,60
|
36,58
|
|
3.
|
Rata-rata
|
7,40
|
7,57
|
8,89
|
7,95
|
|
4.
|
≥
rata-rata
|
9
|
9
|
12
|
10
|
|
5.
|
˂
rata-rata
|
24
|
24
|
21
|
23
|
Sumber:
Tesis Lampiran 11 diolah
Struktur aktiva KPRI Kodya Malang
pada umumnya rendah yaitu hanya 7,96% artinya KPRI tidak mempunyai aktiva tetap
yang cukup untuk dapat dijadikan jaminan memperoleh hutang jangka panjang. Hal
ini disebabkan oleh karena KPRI mempunyai kegiatan usaha jasa simpan pinjam dan
perdagangan atau bukan usaha industry/manufaktur. Selain itu KPRI banyak
mempergunakan fasilitas milik pemerintah seperti gedung, tanah. KPRI dengan
SKEU tinggi mempunyai SAKT yang tinggi dan KPRI SKEU rendah mempunyai SAKT
rendah.
3. Pertumbuhan
Penjualan
Pertumbuhan
penjualan dihitung dari selisih antara jumlah penjualan pada suatu tahun (t)
dengan tahun sebelumnya (t-1) dibagi dengan penjualan tahun sebelumnya (t-1)
yang dinyatakan dalam presentase.
Tabel
3. Deskripsi pertumbuhan penjualan KPRI Kodya Malang 1996-1998
|
No.
|
Keterangan
|
Tahun
|
1996-1998
|
||
|
1996
|
1997
|
1998
|
|||
|
1.
|
Terendah
|
-13,31
|
-54,04
|
-62
|
-8,04
|
|
2.
|
Tertinggi
|
126,34
|
120,99
|
84,83
|
74,00
|
|
3.
|
Rata-rata
|
27,26
|
20,53
|
15,83
|
21,21
|
|
4.
|
≥ rata-rata
|
13
|
16
|
15
|
14
|
|
5.
|
˂ rata-rata
|
20
|
17
|
18
|
19
|
Sumber: Tesis lampiran 12 diolah
Ditinjau dari masing-masing periode
KPRI, pertumbuhan penjualan terendah terjadi pada tahun 1998 yaitu -62% dan
tertinggi pada tahun 1996 yaitu 126,34%. Dari tahun 1996-1998 terendah -8,04%
dan tertinggi 74%. Keadaan ini menggambarkan bahwa pertumbuhan penjualan KPRI
lebih banyak berada di bawah rata-rata
industri.
Dari sisi rata-rata industry
pertumbuhan penjualan KPRI mengalami penurunan. Dari tahun 1996-1997 empat unit
KPRI mengalami pertumbuhan negatif dan dari tahun 1997-1998, 11 unit KPRI.
Penyebabnya selain karena volume penjualan memang menurun juga KPRI yang
melakukan usaha tanah kapling dan perumahan, sejak akhir tahun 1997 berangsur-angsur
berhenti. Hal ini mengindikasikan bahwa KPRI juga terimbas oleh adanya krisis
ekonomi. Jika dikaitkan dengan SKEU KPRI, dapat diketahui bahwa sekutu SKEU KPRI
yang tinggi tidak menghasilkan pertumbuhan penjualan yang tinggi, akan tetapi
SKEU yang rendah menghasilkan pertumbuhan penjualan yang lebih besar dari SKEU
yang tinggi walaupun masih di bawah rata-rata industri.
4. Return
On Asset (ROA)
Return on asset menunjukkan kemampuan KPRI untuk
menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak dari total aktiva yang dipergunakan.
Tabel
4. Deskripsi Return on asset KPRI
Kodya Malang 1996-1998
|
No.
|
Keterangan
|
Tahun
|
1996-1998
|
||
|
1996
|
1997
|
1998
|
|||
|
1.
|
Terendah
|
7,0
|
5,61
|
6,2
|
7,28
|
|
2.
|
Tertinggi
|
26,33
|
34,08
|
32
|
29,60
|
|
3.
|
Rata-rata
|
13,50
|
12,25
|
12,22
|
12,66
|
|
4.
|
≥
rata-rata
|
14
|
13
|
12
|
14
|
|
5.
|
˂
rata-rata
|
19
|
20
|
21
|
19
|
Sumber:
Tesis Lampiran 13 diolah
Ditinjau dari masing-masing KPRI ROA terendah dan tertinggi terjadi pada
tahun 1997 yaitu 5,61% dan 34,08%. Dari tabel diperoleh gambaran bahwa KPRI
beroperasi dengan ROA di bawah rata-rata sampel masih lebih banyak daripada
KPRI dengan ROA di atas rata-rata sampel. Rata-rata ROA tahun 1996 adalah
13,50%, tahun 1997 (12,25%) dan tahun 1998 (12,22%). Total rata-rata tingkat
pengembalian aktiva (ROA) sebesar 12,66% artinya penghasilan yang diperoleh
sebelum bunga dan pajak adlah 12,66% dari total aktivanya.
5.
Operating Leverage
Operating leverage yang dihitung bedasarkan degree of operating leverage (DOL) dilakukan
dengan membandingkan persentase perubahan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT)
dengan persentase perubahan penjualan. Deskripsi operating laverage KPRI dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel
5. Deskripsi operating laverage KPRI
Kodya Malang 1996-1998
|
No.
|
Keterangan
|
Tahun
|
1996-1998
|
||
|
1996
|
1997
|
1998
|
|||
|
1.
|
Terendah
|
-10,49
|
-7,17
|
-2,68
|
-0,77
|
|
2.
|
Tertinggi
|
12,85
|
3,26
|
32,71
|
8,79
|
|
3.
|
Rata-rata
|
1,07
|
-0,22
|
1,65
|
0,83
|
|
4.
|
≥
rata-rata
|
13
|
22
|
8
|
11
|
|
5.
|
˂
rata-rata
|
20
|
11
|
25
|
22
|
Sumber:
Tesis Lampiran 14 diolah
Dari tabel 5 dapat diketahui bahwa
DOL terendah pada tahun 1996-1998 sebesar -0,77 dan tertinggi sebesar 8,79. DOL
terendah terjadi karena penurunan EBIT yang tidak proporsional diikuti oleh peningkatan
penjualan, dan tertinggi terjadi Karen naiknya EBIT yang tidak proporsional
dengan kenikan penjualan. Jumlah KPRI yang mempunyai DOL diatas dan di bawah
angka rata-rata sampel pada setiap tahun mencerminkan adanya fluktuasi. Hal ini
menunjukkan bahwa laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) serta volume penjulan
yang ada pada masing-masing KPRI juga berfluktuasi. Total rata-rata DOL KPRI
sebesar 0,83 artinya setiap persen fluktuasi penjualan dari tahun dasarnya,
akan menyebabkan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) berfluktuasi 0,83 kali
lipat dengan arah yang sama. Atau dengan kata lain, kenaikan penjualan sebesar
10% akan mengakibatkan kenaikan EBIT sebesar 10% x 0,83 = 8,3%. Dan penurunan
penjulan sebesar 10% x 0,83 = 8,3%. Semakin besar DOL maka berarti semakin
besar pengaruh perubahan penjualan terhadap perubahan EBIT. Jika dihubungkan
dengan SKEU KPRI, koperasi yang mempunyai SKEU tinggi mempunyai DOL yang
tinggi, dan KPRI yang mempunyai SKEU yang rendah mempunyai DOL yang rendah.
6. Ukuran
Perusahaan
Dalam penelitian ini ukuran
perusahaan ditentukan berdasarkan total aktiva dari masing-masing KPRI.
Tabel
6. Deskripsi ukuran perusahaan (KPRI) tahun 1996-1998
|
No.
|
Keterangan
|
Tahun
|
1996-1998
|
||
|
1996
|
1997
|
1998
|
|||
|
1.
|
Terendah
|
15.912
|
19.414
|
29.662
|
21.669
|
|
2.
|
Tertinggi
|
2.849.119
|
3.036.451
|
3.613.762
|
3.166.444
|
|
3.
|
Rata-rata
|
390.915
|
449.427
|
444.021
|
426.121
|
|
4.
|
≥
rata-rata
|
8
|
8
|
8
|
9
|
|
5.
|
˂
rata-rata
|
25
|
25
|
25
|
24
|
Sumber:
Tesis Lampiran 15 diolah
Dari tabel di atas dapat diketahui
bahwa ukyran KPRI terendah terjadi pada tahun 1996 dengan total aktiva sebesar
Rp 15,9 juta, dan tertinggi terjadi pada tahun 1998 dengan total aktiva Rp 3,6
milyar. Terendah terjadi karena adanya penurunan piutang simpan pinjam (47%),
penurunan piutang toko dan persediaan barang, yang diikuti menurunnya hutang
pada PKPRI (48%), dan SHU tahun 1996 (62%). Total aktiva rata-rata industri
KPRI mengalami penurunan pada tahun 1998, hal ini disebabkan oleh karena
delapan KPRI mengalami penurunan total aktiva dan tidak sebanding dengan 25
KPRI yang mengalami peningkatan total aktiva. Dari segi jumlah KPRI yang
mempunyai total aktiva di atas dan di bawah rata-rata industri setiap tahunnya
tidak mengalami perubahan, hal ini antara lain disebabkan oleh karena adanya
konsistensi keseimbangan masuk, keluar dan mutasi anggota pada setiap KPRI.
Total rata-rata aktiva KPRI tahun 1996-1998 sebesar Rp 428 juta. Jumlah ini
sekitar 7,95% tertanam pada aktiva tetap, 86% tertanam pada aktiva lancer dan
selebihnya masuk dalam investasi lainnya. Jika dikaitkan dengan struktur
keuangan, KPRI dengan SKEU tinggi mempunyai total aktiva yang besar dan KPRI
dengan SKEU yang rendah mempunyai total aktiva yang kecil.
7. Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibayar
SHU yang dibayarkan menunjukkan
besarnya dana yang dibagikan kepada anggota dari SHU yang diperoleh pada setiap
periode. Dana inilah yang diterima dari masing-masing anggota sebanding dengan
jasa usaha atau jasa modal yang diberikan kepada koperasi. Deskripsi SHU yang
dibayarkan kepada anggota sebagai berikut:
Tabel
7. Deskripsi SHU yang dibayar KPRI 1996-1998
|
No.
|
Keterangan
|
Tahun
|
1996-1998
|
||
|
1996
|
1997
|
1998
|
|||
|
1.
|
Terendah
|
497,7
|
501,3
|
790,65
|
952,35
|
|
2.
|
Tertinggi
|
116.662
|
136.683
|
151.764
|
135.023
|
|
3.
|
Rata-rata
|
12.020
|
14.650
|
14.644
|
13.772
|
|
4.
|
≥ rata-rata
|
7
|
8
|
9
|
8
|
|
5.
|
˂ rata-rata
|
26
|
25
|
24
|
25
|
Sumber:
Tesis Lampiran 16 diolah
Dari tabel ini diketahui bahwa SHU
yang dibayarkan terendah pada tahun 1996, hal ini terjadi karena KPRI tersebut
mengalami penurunan SHU pada tahun 1996 sebesar 62%, akibat menurunnya usaha
simpan pinjam 47%. Tertinggi pada tahun 1998 terjadi karena peningkatan SHU
pada tahun 1998, diikuti penurunan biaya, khususnya biaya organisasi dan
manajemen. Jumlah KPRI yang melakukan pembayaran SHU diatas rata-rata
menunjukkah adanya peningkatan, walaupun hanya satu untuk setiap tahunnya.
Secara umum KPRI Kodya Malang melakukan pembayaran SHU di bawah rata-rata
industri yaitu 25 KPRI. Total rata-rata SHU yang dibagikan tahun 1996-1998
sebesar Rp 13.771.550,-. Jika hal ini dibandingkan dengan total rata-rata SHU bersih
KPRI 1996-1998 dalam persentase (Rp 30.527.200, maka diperoleh rasio rata-rata
sebesar 45,11%, artinya secara umum KPRI Kodya Malang membayarkan SHU yang
dibagikan kepada anggota dari SHU bersih adalah 45,11%.
Pengujian Hasil
Penelitian
1. Hasil
Analisis Regresi Berganda
Berdasarkan
operasi regresi antara variabel terikat SKEU (Y) dengan variabel bebas SAKT (X1), PPj (X2), ROA (X3), OLE (X4), UPER (X5), dan SHUDP (X6) KPRI
diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel
8. Hasil analisis regresi lenear berganda KPRI Kodya Malang
|
Variabel
bebas
|
Koefisien
Regresi
|
t-Statistik
|
t-Signifikan
|
|
Struktur
aktiva (X1)
|
1,281
|
2,784
|
0,007*
|
|
Pertumbuhan
penjualan (X2)
|
0,061
|
0,357
|
0,722
|
|
Return On Assets (X3)
|
-2,960
|
-3,229
|
0,002*
|
|
Operating
Leverage (X4)
|
0,708
|
0,651
|
0,517
|
|
Ukuran
perusahaan (X5)
|
0,027
|
4,497
|
0,000*
|
|
SHU
yang Dibayar (X6)
|
-0,001
|
0,000
|
0,999
|
|
Konstanta
|
77,796
|
0,684
|
0,496
|
|
F-
Sig. = 0,000
R-
Square = 0,349
Multiple
R = 0,591
|
|
|
|
Sumber:
Tesis Lampiran 19 diolah
Keterangan:
* = Signifikan pada tingkat α = 1%.
Hasil operasi regresi ini bila
ditulis dalam bentuk model matematis diperoleh persamaan garis regresi sebagai
berikut:
Y=
77,796 + 1,281X1 +0,061X2 – 2,960 X3 + 0,708X4 + 0,027X5 – 0,001X6
Pengujian
Penyimpangan Asumsi Klasik
Untuk menguji apakah model cukup
baik sebagai dasar estimasi, maka diperlukan pengujian penyimpangan asumsi
klasik yang mungkin ada yaitu multikolinearitas, autokorelasi,
heteroskedastisitas. Selain itu uji asumsi kenormalan nilai residual dan
linearitas juga dilakukan.
Uji
Multikoliniaritas
Untuk mendeteksi multikolinearitas
dapat diketahui dengan melihat VIF (
variance inflation factor). Bila nilai VIF
>10, maka terjadi multikolinearitas (Gujarati, 1995:339). Selain itu VIF tidak melebihi empat atau lima tidak
terjadi multikolinearitas (William dan Douglas, 1990:490). Berdasarkan hasil
analisis pada Lampiran 19 (Tesis) diketahui (VIF) seluruh variabel bebas berada
dibawah nilai 2.
Uji Autokorelasi
Untuk mengetahui/mendeteksi ada
tidaknya autokorelasi dipergunakan uji statistic d (Durbin Watson). Dalam tes
DW dua sisi, terdapat lima daerah kemungkinan atas nilai d (Gujarati,
1995:422). Sesuai dengan tabel statistic d pada = 5% untuk n = 98 dan k = 6,
diketahui nilai d1 = 1,550, d11 = 1,803 (Gujarati, 1995:820).
Sehingga diperoleh (4- d11) = 2,197
dan (4- d1) = 2,450. Dari hasil
analisis pada Lampiran 19 (Tesis), nilai DW sebesar 2,1764. Nilai DW ini
terletak pada daerah tidak ada autokorelasi yaitu antara d11 dan (4- d11), dimana d11 < d < (4- d11) atau 1,803 < 2,176 < 2,197.
Uji
Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas merupakan gejala penyimpangan
asumsi klasik, di mana kesalahan pengganggu dari setiap variabel bebas
mempunyai varians yang tidak sama. Untuk menguji atau mendeteksi ada tidaknya
heteroskedastisitas dalam penelitian ini digunakan uji Goldfeld Quandt. Hasila
analisis yang disajikan pada Lampiran 19 (lanjutan), menunjukkan bahwa model
regresi yang diperoleh bebas dari gejala heteroskedastisitas. Kesimpulan ini
dibuktikan oleh karena Fhit. < Ftabel (Arief Sritua, 1993) yaitu 0,13 <
1,79. Hal ini berarti semua variabel bebas yang diajukan mempunyai varian yang
sama (homoskedastisitas).
Uji Asumsi
Kenormalan Nilai Residual
Berdasarkan Lampiran 19 (Tesis),
dari uji Kolmogorov-Smirnov diperoleh nilai peluang atau probabilitas (2-Tailed P) sebesar 0,1268. Nilai ini
lebih besar dari α = 5%. Demikian juga (K-S Z) tabel α = 5% atau 1,1743 <
1,96.
Uji Asumsi
Linearitas
Asumsi linearitas terpenuhi jika
hubungan antara nilai prediksi dengan nilai residual tidak memberikan suatu
pola hubungan tertentu (acak). Berdasarkan Lampiran 19 (Tesis), dapat
disimpulkan bahwa gambar yang diperoleh tidak menunjukkan pola yang beraturan,
dalam hal ini asumsi linearitas terpenuhi.
Pengujian Hipotesis
Untuk membuktikan secara empiris
tiga hipotesis yang telah diajukan, maka hipotesis pertama dilakukan dengan
uji-F, hipotesis kedua dengan uji-t, sedangkan hipotesis ketiga dilakukan
dengan cara membandingkan nilai koefisien masing-masing variabel bebas pada
beta standar. Dalam pengujian tersebut (uji-F dan uji-t) digunakan α = 5%.
Pengujian Hipotesis
Pertama
Dari tabel 8 di atas diketahui hasil
uji F (α = 5%) dimana diperoleh nilai signifikan F sebesar 0,000. Sehingga
dapat dinyatakan bahwa variabel SAKT, PPj, ROA, OLE, UPER, dan SHUDB secara
simultan atau bersama-sama berpengaruh signifikan positif terhadap struktur
keuangan. Hasil uji ini membuktikan hipotesis satu dalam penelitian ini yaitu
Variabel SAKT, PPj, ROA, OLE, UPER, dan SHUDB secara simultan (bersama-sama)
berpengaruh signifikan positif terhadap struktur keuangan KPRI Kodya Malang.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Firdiansyah
(1998), windhyastiti (1998), dan Meivinita (1999).
Pengujian Hipotesis
Kedua
Uji t atau pengujian secara parsial
diketahui dengan membandingkan anatar sig-t masing-masing variabel bebas dengan
tingkat signifikan yang diajukan (α = 5%). Jika sig-t < α, berarti
variabel-variabel bebas yang diajukan mempunyai pengaruh signifikan terhadap
variabel dependen.
Dari tabel 8 dapat diketahui bahwa
variabel SAKT, ROA, dan UPER mempunyai pengaruh signifikan pada α = 5% bahkan
1%.
Uji t ini jika dikaitkan dengan
hipotesis kedua yang dinyatakan bahwa variabel SAKT, ROA, dan UPER secara
parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap SKEU, maka dapat disimpulkan
bahwa H0 ditolak, artinya secara parsial SAKT, ROA dan UPER KPRI mempunyai
pengaruh signifikan terhadap SKEU KPRI atau diinterpretasikan bahwa KPRI dalam
menentukan SKEU memperhitungkan SAKT, ROA dan UPER secara parsial karena
mempunyai pengaruh nyata.
Pengujian Hipotesis
Ketiga
Berdasarkan nilai koefisisen standar
beta dan koefisien korelasi parsial variabel bebas, ukuran perusahaan (UPER
atau X5) yang paling tinggi, sehingga merupakan variabel dominan yang
mempengaruhi struktur keungan pada KPRI Kodya Malang artinya KPRI dalam
menentukan SKEUnya pertama-tama mempertimbangkan UPER, kemudian ROA dan
terakhir adalah SKAT. Ketiga variabel tersebut memberikan pengaruh terhadap
penentuan SKEU masing-masing sebesar 42,60%, 32,10% dan 28%. Karena ukuran
perusahaan merupakan variabel dominan, maka hipotesis ketiga yang menyatakan variabel
struktur aktiva mempunyai mempunyai pengaruh dominan terhadap struktur keuangan
tidak terbukti atau H0 diterima. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil
yang ditemukan oleh Farida (1998), Firdiansyah (1998), dan Meivinita (1999).
Hal ini disebabkan oleh karena cirri koperasi yang menghimpun individu sebagai
anggota, pemilik dan pengguna jasa untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya
secara umum masih dalam golongan ekonomi lemah, serta bersifat sukarela.
Interpretasi
Koefisien Regresi Variabel Bebas
Ditinjau dari koefisien
masing-masing variabel bebas, sebagaimana yang tertera pada tabel 8, maka dapat
diinterpretasikan sebagai berikut:
1. Koefisien variabel SAKT (X1)
sebesar 1,281 artinya jika nilai koefisien lima variabel bebas lainnya dipertahankan
maka perubahan variabel SAKT sebesar 1% akan memberikan pengaruh yang searah
sebesar 1,281%. Tanda positif yang ada memberikan isyarat peningkatan yang
searah, artinya jika SAKT KPRI meningkat maka SKEU KPRI juga akan meningkat.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa SAKT mempengaruhi sumber-sumber pembiayaan,
yaitu apabila perusahaan mempunyai aktiva tetap jangka panjang, maka akan
banyak menggunkan hutang jangka panjang, dan perusahaan yang sebagian besar
aktivanya berupa piutang dan persedaiaan barang akan lebih tergantung pada
pembiayaan jangka pendek (Weston dan Copeland, 1997:36). Dengan berpatokan pada
uji t variabel SAKT KPRI berpengaruh signifikan positif terhadap SKEUnya
(0,006<0 dengan="" dilakukan="" firdiasyah="" hasil="" ini="" konsisten="" o:p="" oleh="" penelitian="" widhyastiti="" yang="">0>
2. Pertumbuhan penjualan. Nilai
koefisien variabel PPj (X2) sebesar 0,061 memberikan arti bahwa apabila nilai
koefisien lima variabel bebas lainnya dipertahankan atau tidak berubah, maka
perubahan variabel PPJ KPRI sebesar 1% akan menyebabkan SKEU KPRI meningkat
sebesar 0,061%. Arah positif berarti dengan adanya peningkatan PPJ KPRI, maka
semakin berpeluang KPRI tersebut untuk menggunakan hutang. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Weston dan Copeland (1997:35), bahwa jika penjualan dan laba
meningkat, maka pembiayaan dengan hutang dan beban tetap akan meningkatkan
pendapatan pemilik perusahaan. Hasil penelitian ini menemukan variabel PPJ
tidak signifikan, artinya variabel PPJ KPRI secara parsial tidak berpengaruh nyata
terhadap SKEUnya (0,722>0,05), dan mendukung hasil penelitian Firdiansyah
(1998:76), Windhyastiti (1999:61), dan Meivinita (1999:58).
3. Return
On Assets (ROA). Nilai
koefisien variabel ini sebesar negative 2,960. Nilai ini mempunyai arti bahwa
jika nilai lima variabel bebas lainnya dipertahankan atau tidak berubah, maka
perubahan ROA KPRI sebesar 1% akan menurunkan SKEUnya sebesar 2,960%. Tanda
negative tersebut memberikan indikasi hubungan yang tidak searah atau
berbanding terbalik artinya jika ROA KPRI meningkat, maka SKEUnya cenderung
meningkat. Hasil ini sesuai dengan teori bahwa perusahaan yang mempunyai
tingkat pengembalian investasi yang tinggi, cenderung menggunakan hutang yang
relative kecil (Weston dan Brigham, 1997:175), serta memperkuat hasil penelitian
Firdiansyah (1998:76), Meivinita (1998:58), dan Farida (1998:78), namun
penelitian pada KPRI ini ROA bukan merupakan variabel dominan yang mempengaruhi
SKEU. Hal ini disebabkan oleh karena KPRI bukan semata-mata mengejar
keuntungan, akan tetapi mengutamakan pemenuhan kebutuhan anggotanya.
4. Operating
Leverage.
Koefisien OLE KPRI sebesar 0,708 kali. Mengindikasikan bahwa apabila lima
variabel bebas KPRI lainnya dipertahankan atau tidak berubah, maka perubahan
variabel OLE 1 kali akan memberikan pengaruh yang searah terhadap SKEUnya
sebesar 0,708 kali. Hasil uji t ditemukan variabel OLE tidak signifikan,
artinya variabel OLE KPRI secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap
SKEUnya (0,708>0,05). Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Firdiansyah
(1998:76), Widyastiti (1999:61) bahwa OLE tidak mempengaruhi SKEU, namun
kontradiktif mengenai arah hubungannya. Hal ini disebabkan oleh karena pada
KPRI umumnya mempunyai OLE yang rendah yaitu dari 33 KPRI yang dijadikan sampel
22 KPRI pada tahun 1996-1998 mempunyai OLE di bawah rata-rata industry.
5. Ukuran Perusahaan. Nilai
koefisien variabel UPER sebesar 0,027, mengandung arti bahwa apabila nilai
koefisien regresi lima variabel lainnya dipertahankan atau tidak berubah, maka
perubahan variabel UPER KPRI sebesar 1% akan memberikan perubahan yang searah
terhadap SKEUnya sebesar 0,027%. Karena UPER KPRI diukur berdasarkan total
aktiva KPRI, maka hal ini berarti semakin besar aktiva KPRI, maka semakin besar
penggunaan hutang yang dilakukan. Penelitian ini mendukung hasil penelitian
Ferry dan Jones (1979), Firdiansyah (1998:84). Namun dalam penelitian ini
ukuran perusahaan merupakan variabel dominan.
6. SHU yang dibayar. Nilai koefisien
SHUDB negative 0,001. Nilai ini mempunyai arti bahwa apabila lima variabel
bebas lainnya dipertahankan atau tidak berubah, maka perubahan variabel SHUDB
1% akan memberikan pengaruh yang berlawanan sebesar 0,001% terhadap SKEUnya.
Artinya jika pembayaran SHU dilakukan pada KPRI, maka penggunaan hutang akan
semakin rendah sehingga SKEUnya juga akan menurun. PSAK No. 27 menyatakan bahwa
komponen-komponen SHU anggota yang belum dicairkan disajikan dalam kelompok
kewajiban lancer. Hasil uji t menunjukkan bahwa SHUDB KPRI tidak mempunyai
pengaruh yang berarti terhadap SKEU KPRI (0,999>0,05). Hasil penelitian ini
memperkuat temuan Firdiansyah (1998:78) bahwa semakin besar pembayaran deviden,
maka semakin rendah penggunaan hutang oleh perusahaan.
Interpretasi
Koefisien Determinasi (R-Square)
R-Square
menunjukkan proporsi variabel devenden yang dijelaskan oleh variabel
independen atau mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas menjelaskan
variabel terikat.
R-Square
dari hasil regresi berganda yang telah dilakukan (tabel 8) diketahui
mempunyai nilai sebesar 0,3489 atau 34,89%, artinya secara keseluruhan variabel
bebas yang diajukan dapat menjelaskan perubahan SKEU KPRI sebesar 34,89%, dan
selebihnya (65,11%) dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terliput dalam
model ini. Besarnya R-Square dalam
penelitian ini rendah, namun secara teori dapat diterima mengingat banyaknya
variabel-variabel lain yang belum dimasukkan sebagai variabel analisis
sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, baik yang bersifat kuantitatif maupun
kualitatif.
KESIMPULAN DAN
SARAN
Kesimpulan
1. Struktur keuangan Koperasi
Pegawai Republik Indonesia Kodya Malang pada umumnya mempunyai rasio yang
rendah, artinya KPRI Kodya Malang dalam membelanjai aktivanya menggunakan modal
sendiri lebih besar dari pada hutang. 23 KPRI (70%) menggunakan struktur keuangan
lebih rendah dari rata-rata industri, dan hanya 10 KPRI (30%) yang menggunakan
struktur keuangan di atas rata-rata industri. Enam KPRI menggunakan hutang
lebih besar dari modal sendiri. Kebijakan ini merupakan suatu langkah yang
tepat dari segi ROA karena tingkat pengembalian aktiva (ROA) KPRI lebih
menguntungkan/tinggi jika mempergunakan SKEU yang rendah (kurang dari rata-rata
sampel) daripada mempergunakan SKEU yang tinggi (lebih besar dari rata-rata
sampel atau lebih besar dari modal sendiri). SKEU KPRI yang rendah juga
mengindikasikan bahwa KPRI tidak mempunyai aktiva tetap yang cukup untuk
dijadikan jaminan dalam memperoleh hutang jangka panjang. PPJ KPRI lebih
meningkat pada SKEU yang rendah daripada SKEU yang tinggi. Operating Laverage rendah pada SKEU kurang 100% dan meningkat pada
SKEU yang tinggi atau KPRI menggunakan hutang lebih besar dari modal sendiri.
Namun jika ditinjau dari ukuran KPRI dapat disimpulkan bahwa KPRI dengan SKEU
yang tinggi mempunyai total aktiva yang lebih besar daripada KPRI dengan SKEU
yang rendah.
2. Berdasarkan pengujian simultan
diketahui bahwa keenam variabel bebas yang diajukan dalam penelitian ini yaitu
struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return
on assets, operating laverage, ukuran perusahaan dan SHU yang dibayar
secara simultan berpengaruh signifikan positif terhadap struktur keuangna KPRI
Kodya Malang, artinya keenam variabel bebas tersebut secara bersama-sama selalu
diperhitungkan di dalam menentukan struktur keuangan KPRI.
3. Dari hasil pengujian parsial
dapat diungkapakan bahwa dari enam variabel bebas yang diajukan, tiga
diantaranya yaitu struktur aktiva, return
on assets, dan ukuran perusahaan secara parsial mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap struktur keuangan, artinya penetapan struktur keuangan KPRI
secara individu memperhitungkan tiga variabel bebas yang berpengaruh nyata
tersebut.
4. Ukuran perusahaan adalah variabel
dominan yang mempengaruhi struktur keuangan KPRI dari enam variabel bebas yang
diajukan. Atinya di dalam penetapan kebijakan struktur keuangan KPRI, variabel
ukuran perusahaan memerlukan perhatian utama, karena memberikan sumbangan yang
dominan dibandingkan sumbangan variabel ROA dan SAKT. Hal ini sesuai dengan
cirri koperasi (KPRI) yang menghimpun individu sebagai anggota pemilik dan pengguna
jasa untuk meningkatkan kesejahteraannya, serta keanggotaan bersifat sukarela.
Pengaruh dominan ini diperlihatkan oleh nilai tertinggi pada koefisien standar
beta dan koefisien korelasi parsial hasil regresi.
5. Nilai R-Square yang diperoleh sebesar 34,89% menunjukkan bahwa
variabel-variabel bebas yang diajukan secara bersama-sama dapat menjelaskan
pola perubahan struktur keuangan KPRI Kodya Malang sebesar 34,89%, sedangkan
sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.
Keterbatasan
penelitian
Hasil penelitian ini disimpulkan
dengan berbagai keterbatasan sebagai kelemahan antara lain yaitu:
1. Karena keterbatasan teori-teori
tentang variabel-variabel struktur keuangan koperasi, maka teori-teori dan
hasil penelitian yang digunakan dalam penelitian ini banyak mengacu pada teori
keuangan perusahaan yang profit oriented.
2. Data-data keuangan yang diperoleh
dari laporan keuangan KPRI dan dijasikan data analisis tidak dilakukan
pemisahan antara kontribusi dari anggota dan bukan anggota.
3.
Nilai
R-Square yang diperoleh rendah,
mengingat masih ada variabel lain seperti sikap manajemen, sikap pemberi
pinjaman, kondisi pasar dan sebagainya, dapat mempengaruhi struktur keuangan
KPRI belum dimasukkan dalam variabel analisis.
Saran-Saran
1. Dengan berpatokan pada kontribusi
R-Square yang diperoleh dari enam
variabel bebas yang diajukan yaitu struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, return on assets, operating laverage, ukuran
perusahaan dan SHU yang dibayarkan, maka kepada pihak manajemen atau pengelola
koperasi khususnya KPRI untuk tetap mempertimbangkan variabel lain yang tidak
terliput dalam penelitian ini, seperti sikap manajemen, sikap pemberi pinjaman,
kondisi pasar dan lain-lain.
2. Melihat rata-rata struktur
keuangan KPRI yang masih rendah, maka disarankan kepada manajemen atau pengelola
untuk memanfaatkan peluang meningkatkan struktur keuangan agar pemanfaatan
pelayanan anggota khususnya simpan pinjam dapat terpenuhi, tanpa melupakan
usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan memperoleh laba, memperbesar aktiva
tetap dan total aktiva.
3. Kepada Pusat Koperasi Pegawai
Republik Indonesia sebagai Pembina dan pengayom KPRI-KPRI yang ada, disarankan
untuk melakukan pelatihan-pelatihan mengenai tertib administrasi khusunya
keseragaman dalam pelaporan keuangan.
4. Bagi para peneliti yang tertarik untuk
meneliti variabel-variabel yang mempengaruhi struktur keuangan koperasi
khususnya KPRI, disarankan untuk menambah variabel, terutama variabel-variabel
kualitatif dan memperluas jenis koperasi yang akan diteliti.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
(1998) TAP No. X/MPR/1998, Tentang
Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyealamatan Dan Normalisasi
Kehidupan Nasional Sebagai Haluan Negara. Bina Pustaka Tama, Surabaya.
Arsyad,
Lincolin. (1993) Ekonomi Manajerial,
Ekonomi Mikro Terapan Untuk Manajemen Bisnis. Edisi Ketiga, BPFE,
Yogyakarta.
Baridwan,
Zaki. (1996) Intermediate Accounting. Edisi
ketujuh, BPFE, Yogyakarta.
Billingsley,
R.S. et al. (1994) Simultaneous Debt and Equity Issues an Capital Structure
Targets. Journal of financial Research, Vol.
XVII, No.4. 495-516.
Clarke,
R.G. et al. (1990) Strategic Financial
Management. Toppan Co. Ltd, Tokyo Japan.
Farida,
Ilya. (1998) Analisis variabel-variabel
yang menentukan struktur modal beberapa perusahaan manufaktur yang go public di
Bursa Efek Jakarta. Tesis, Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.
Ferry,
M.G. & Jones, W.H. (1979) Determinats of Financial Structure: A New
Methodological Approach. Journal of
Finance, Vol. XXXIV, No.3.
Firdiansjah,
Ahmad. (1998) Analisis beberapa variabel
yang mempengaruhi struktur keuangan pada industri properti. Tesis,
Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.
Gardner,
J.C. & Trzcinka, C.A. (1992) All Equity Firms and The Balancing Theory of
Capital Structure. Journal of Financial
Research, Vol. XV, No.1.
Gujarati,
N. Damodar. (1995) Basic Econometrics. Third
Edition, McGraw-Hill Inc.
Gujarati,
Damodar. (1995) Ekonometrika Dasar. Alih
Bahasa Sumarno Zein. Erlangga, Jakarta.
Harianto
dan Sudomo. (1998) Perangkat dan Teknik
Analisis Investasi Di Pasar Modal Indonesia. Bursa Efek Jakarta, Jakarta.
Hendar
dan Kusnadi. (1999) Ekonomi Koperasi,
Untuk Perguruan Tinggi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Hendrojogi.
(1998) Koperasi, Azas-Azas, Teori dan
Praktek. Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Husnan,
Suad dan Pudjiastuti, Enni. (1996) Dasar-Dasar
Manajemen Keuangan. UUP AMP YKPN, Yogyakarta.
Ikatan
Akuntansi Indonesia. (1994) Standar
Akuntansi Keuangan. Buku Satu dan dua, Salemba Empat, Jakarta.
Ismangil,
Wagiono. (1999) Pengembangan Struktur Bisnis Untuk Koperasi Pegawai Republik Indonesia
(Sebuah Usulan). Warta Koperasi No.
66, 25-26.
Ismawan,
Indra. (1999) Kredit Usaha Kecil Plus Pendampingan (Secara
Individual/Kelompok): Alternaif Pemberdayaan Usaha Kecil. Usahawan No. 12, Th XXVIII, 15.
Kieso,
D.E. & Weygandt, J.J. (1995) Akuntansi
Intermediate. Jilid Tiga, Binarupa Aksara, Jakarta.
Meivinita.
(1999) Analisis beberapa variabel yang
mempengaruhi struktur keuangan perusahaan jasa perhotelan yang go public di
Indonesia. Tesis,Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.
Miswanto
dan Hisnan, suad. (1999) The effect of Operating Leverage, Cyclicality, and
Firm Size On Business Risk. Gadjah Mada
International Journal Of Business, Vol
1. No. 1. 29-43.
Moh’d,
Mahmoud A. et al. (1998) The Impact of Ownership Structure On Corporate Debt
Policy: a Time-Series Cross Sectional Analysis. Financial Review 33, 85-98.
Nurdin,
Bahri. (1997) Penegmbangan Modal Bergulir
Koperasi Melalui Pemupukan SHU Milik Anggota: Kasus Koperasi Luar Negeri.
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Raviv,A.
and Harris,M. (1991) The Theory of capital Structure. Journal of finance, Vol.XLVI, No.1.
Rietveld,
Piet dan Sunaryanto, L.T. (1994) 87 Masalah
Pokok Dalam Regresi Berganda. Andi Offset, Yogyakarta.
Riyanto,
Bambang. (1996) Dasar-Dasar Pembelajaran
Perusahaan. Edisi Keempat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sartono,
Agus. (1996) Manajemen Keuangan: Teori
dan Aplikasi. Edisi ketiga, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Soeratno
dan Arsyad, Lincolin. (1993) Metodologi
Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis. Edisi Revisi, UPP AMP YKPN,
Yogyakarta.
Suman,
Agus. (1999) Strategi Pembangunan Menuju Indonesia Baru. Seminar Nasional dan Silaturahmi Alumni Mahasiswa Pascasarjana
Universitas Brawijaya Malang.
Sumarni,
Murti dan Soeprihanto. (1999) Pengantar
Bisnis (Dasar-Dasar Ekonomi Perusahaan). Edisi kelima, Liberty, Yogyakarta.
Sutrisno.
(1999) Analisi Transaksi Anggota Untuk Meningkatkan Layanan Usaha Koperasi Di
Koperasi Pegawai Negeri (KPRI) Kodya Malang. Tesis, Program Pascasarjana
Universitas Brawijaya Malang.
Syamsuddin,
Lukman. (1998) Manajemen keuangan
Perusahaan: Konsep Aplikasi Dalam Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan
Keputusan. Edisi baru, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Thoyib,
Armanu. (1999) Tantangan Manajemen Bisnis Bagi Usaha Kecil Menengah Dan
Koperasi Di Era Global. Seminar Nasional
Dan Silaturahmi Alumni-Mahasiswa Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.
Tugiman,
Hiro. (1996) Akuntansi Untuk Badan Usaha
Koperasi. Kanisius, Yogyakarta.
Weston,
J.F. & Brigham, E.F. (1997) Dasar-dasar
Manajemen Keuangan. Edisi kesembilan, Jilid satu dan dua, Erlangga, Jakarta.
Weston,
J.F. & Copeland,T.E. (1997) Manajemen
Keuangan. Edisi kesembilan, Jilid satu dan dua, Binarupa Aksara, Jakarta.
Williem,
Douglas. (1990) Probabilitas Dan Statistic Dalam Ilmu Rekayasa Dan Manajemen.
Edisi kedua, Terjemahan, UI Press, Jakarta.
Widhyastiti,
Irany. (1999) Analisis fakto-faktor yang
mempengaruhi struktur keuangan dan pengaruhnya terhadap biaya modal pada
industry makanan dan minuman, dan industry jasa (lembaga pembiayaan) di Bursa
Efek Jakarta. Tesis, Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.
Wirasasmita,
Yuyun dan Arifin, Ramudi. (1994) Reformasi Koperasi dan Pemasyarakatan UU No.
25/1992. Warta Koperasi No.57 Th.XII.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar